MANUSIA DICIPTAKAN UNTUK BEKERJA
📖 Kejadian 2:8–9, 15
“Kemudian TUHAN Allah menempatkan manusia itu di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
(Kejadian 2:15, BIMK)
1. Pekerjaan adalah bagian dari rancangan Allah sejak awal
Ketika membaca kisah penciptaan dalam kitab Kejadian, kita menemukan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan penuh keteraturan. Setiap ciptaan diciptakan dengan tujuan yang jelas, dan setelah semuanya selesai, Allah menilai semuanya itu “sungguh amat baik” (Kejadian 1:31). Di tengah kesempurnaan ciptaan tersebut, Allah kemudian menempatkan manusia di taman Eden — bukan sekadar untuk menikmati hasil ciptaan, tetapi untuk bekerja dan memeliharanya.
Hal ini menunjukkan bahwa kerja bukan akibat dari dosa, melainkan bagian dari rencana Allah yang sempurna. Sebelum dosa masuk ke dunia, manusia sudah diberi tanggung jawab untuk bekerja. Dengan kata lain, bekerja adalah panggilan mulia dari Allah, bukan beban atau kutukan. Melalui pekerjaan, manusia berpartisipasi dalam karya Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara dunia.
Secara logika manusia, mungkin tampak aneh bahwa Adam harus bekerja di tengah taman yang sudah begitu indah dan lengkap. Namun, di sinilah letak hikmat Allah. Allah menciptakan manusia dengan kemampuan berpikir, berkreasi, dan mengelola. Maka, pekerjaan adalah sarana bagi manusia untuk menyalurkan potensi ilahi yang ditanamkan oleh Allah sendiri.
2. Bekerja adalah bentuk kemuliaan bagi Allah
Kejadian 1:26 mencatat bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Artinya, dalam diri manusia terdapat sifat-sifat yang mencerminkan karakter Allah, salah satunya adalah kerajinan dan produktivitas. Allah adalah Allah yang bekerja — Ia menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan beristirahat pada hari ketujuh. Bahkan Yesus sendiri menegaskan dalam Yohanes 5:17:
“Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.”
Ayat ini memperlihatkan bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja. Ia terus menopang ciptaan-Nya, memelihara kehidupan, dan menuntun sejarah dunia menuju rencana keselamatan. Karena itu, manusia sebagai gambar Allah pun dipanggil untuk terus berkarya dan bekerja dengan tekun.
Jika Allah masih bekerja sampai sekarang, maka orang percaya pun tidak boleh hidup dengan sikap malas atau pasif. Bekerja dengan sungguh-sungguh adalah bentuk ibadah kita kepada Allah. Kolose 3:23 menegaskan:
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Jadi, ketika kita bekerja dengan penuh tanggung jawab, disiplin, dan kejujuran, kita sebenarnya sedang memuliakan Allah. Sebaliknya, ketika kita malas atau tidak menggunakan kemampuan yang telah Allah karuniakan, kita sedang mengabaikan mandat ilahi yang diberikan kepada manusia sejak penciptaan.
3. Bekerja adalah sarana berkat dan kesaksian
Allah memberi manusia kemampuan untuk bekerja bukan hanya agar kebutuhan hidupnya terpenuhi, tetapi juga agar melalui pekerjaannya, manusia menjadi saluran berkat bagi sesama. Dalam Efesus 4:28, Rasul Paulus menulis:
“Orang yang mencuri janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.”
Ayat ini mengajarkan bahwa pekerjaan memiliki dimensi sosial dan spiritual. Dengan bekerja, kita belajar memberi, melayani, dan berkontribusi dalam kehidupan bersama. Dunia dapat melihat kemuliaan Allah melalui cara kita bekerja — baik dalam tanggung jawab, ketekunan, maupun integritas kita.
Bekerja bukan sekadar mencari penghasilan, tetapi menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah di tengah dunia kerja. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan kasih, kejujuran, dan semangat melayani, menjadi kesaksian nyata bahwa Kristus hidup di dalam diri kita.
4. Refleksi pribadi: Bekerja sebagai bagian dari ibadah
Sebagai anak-anak Allah, kita tidak boleh memisahkan pekerjaan dari kehidupan rohani. Dalam diri setiap orang percaya, Allah telah menanamkan kemampuan bekerja, kekuatan, dan kreativitas. Maka, setiap kali kita menggunakan talenta dan kemampuan itu dengan sungguh-sungguh, kita sedang melaksanakan kehendak Allah.
Sama seperti Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang terus bekerja hingga hari ini, demikian pula kita dipanggil untuk terus berkarya di mana pun Tuhan menempatkan kita — baik di ladang pekerjaan, pelayanan, pendidikan, maupun keluarga.
Karena itu, bekerja dengan rajin, jujur, dan penuh sukacita adalah bagian dari ibadah yang sejati. Kita bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan duniawi, tetapi untuk memuliakan Tuhan yang telah menciptakan kita
Penutup
Allah tidak pernah berhenti bekerja, dan Ia memanggil kita untuk ikut serta dalam karya-Nya. Sejak awal penciptaan, manusia diciptakan untuk bekerja, memelihara, dan mengelola ciptaan Allah dengan penuh tanggung jawab. Bekerja adalah anugerah, bukan beban.
Ketika kita bekerja dengan sikap yang benar — bukan untuk kemuliaan diri, melainkan untuk kemuliaan Allah — maka setiap usaha dan jerih lelah kita akan menjadi ibadah yang hidup di hadapan-Nya.
💬 “Mari bekerja, bukan karena terpaksa, melainkan karena kita meneladani Allah yang bekerja dengan kasih. Dalam setiap pekerjaan yang kita lakukan, biarlah nama Tuhan dipermuliakan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thank you have visited