Rabu, 08 April 2026

MENGIKUTI JEJAK ABRAHAM MENJAWAB PANGGILAN TUHAN

 

Dalam Kekristenan Abraham dikenal sebagi Bapak orang beriman. Bukan hanya Kekristenan saja yang mengenal tokoh yang satu ini melainkan Yudaisme dan agama Islam juga menghormatinya sebagai tokoh iman. Karena kekagamun pada Abram/ Abraham banyak orangtua memberi nama Abraham pada anak-anak mereka.

Disebut sebagai bapak beriman bukan tanpa alasan. Penulis menemukan tiga alasan utama mengapa Abraham dipanggil sebagai Bapak Orang Beriman.

Pertama - Karena Abraham percaya kepada Tuhan tanpa melihat bukti. Dalam Alkitab, khusunya Kejadian 12:1, dicata bahwa Tuhan memerintahkan Abraham untuk meninggalkan negerinya.
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;.
Tanpa banyak pertimbangan atau  alasan Abraham menaati perinta Tuhan. Dalam ayat Kejadian 12:4 mengatakan Abraham melakukan seperti yang diperintahkan Tuhan baginya.  
Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.”

Pada usia senja, yaitu 75 tahun Abraham harus pergi meninggalkan Haran. Secara manusia Abraham bisa saja menola dengan berbagai alasan, seperti merasa sudah tua, sudah cukup secara materi, saya tidak butuh perubahan.” Ini bisa saja jadi alasan Abraham untuk tidak pergi. Namun, Abraham memilih untuk taat karena ia mengenal siapa yang sedang berbicara padanya, yaitu Tuhan sendiri.

Ke-dua - Karena Abraham taat walaupun tidak melihat masa depan.  Ketaatan Abraham bukanlah ketaatan sementara. Ia pergi bukan untuk kembali lagi melainkan untuk selamanya di tempat baru yang belum ia kenal. Ia pergi meninggalkan keluarga, kampungnya, dan zona nyamannya.

Secara logika, tindakan ini tidak masuk akal. Namun, bagi Abraham tidak ada alsan untuk menolak panggilan Tuhan. Ketaatan dan imannya kepada Allah diperhitungkan sebagai kebenaran.
Kejadian 15:6 “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

Ke-tiga - Karena Abraham setia dalam ujian yang sangat berat. Dalam perjalanan menggenapi panggilan Tuhan banyak sekali tantangan/ ujian yang dihadapi oleh Abraham. Ujian paling terberat bagi Abraham adalah ketika Allah meminta Ishak. Ishak anak tunggal Abraham dan merupakan anak perjanjian antara Allah dengannya. Allah meminta ia untuk mempersembahkan Ishak. Namun, Abraham taat dan ia melakukannya. Abraham menunjukan keataan dan imannya kepada Allah. Ia percaya penuh kepada Allah walaupun situasinya sangat sulit dan berat.

Abraham pergi ke tempat yang tidak diketahuinya, tetapi ia percaya penuh kepada Tuhan. Tindakan ketaatan dan percaya penuh pada Allah inilah yang diperhitungkan Allah sebagai kebenaran. Ketaan dan iman Abraham kepada Allah mendatangkan berkat bagi mereka yang menerimanya dan sebaliknya mendatangkan malapetaka dan bahkan kutuk bagi meraka yang menolak dan mengutuknya.

Refleksi Pribadi

Penulis menyadari bahwa panggilan hidup merupakan dari rencana atau visi Tuhan. Allah menciptakan manusia dengan satu tujuan yang mulia. Untuk memahami tujuan hiduo, setiap orang perlu dekat dengan Sang Pencipta langit dan Bumi. Seperti yang dituliskan dalam Mazmur 25:14, Tuhan akan menyatkan kehendak-Nya bagi orang yang takut akan Dia.

Sejak mengetahui panggilan Tuhan penulis banyak belajar dari teladan Abraham Walupu diawal penulis menolak panggilan Tuhan. Terutama dalam hal Ketaatan, iman, dan kesetian. Penulis mengetahui panggilan sejak 28 Oktober 2008. Allah memanggil penulis untuk menyelamatkan generasi di daerah pedalaman. Dalam sebuah nubuatan dari Bapak Rohani “ Aku melihat kamu sedang membuat jalan di tengah hutan.” Melalui proses yang panjang selama 10 tahun, penulis dipersiapankan oleh Allah untuk menggenapi panggilan.

31 Oktober 2018 Penulis diutus ke Suku Tau Ta’a Wanna di pedalaman Sulawesi Tenagah hingga sekarang penulis masih mengabadi dan melayani di suku ini. Dalam perjalanan selama 10 tahun di ladang misi, penulis banyak dibentuk dalam iman. Percaya walaupun tidak melhat seperti yang Abraham. Penulis mempercayakan seluruh kehidupan dan masa depan keluarga  masa depan anak-anak kami walaupun kami jauh dari rumah sakit, sekolah yang layak. Penulis percaya Yang Mengutus kami lebih tahu yang terbaik bagi penulis bersama keluarga.

Pertanyaan Refleksi

  1. Apakah saya sudah percaya kepada Tuhan sepenuhnya, bahkan ketika saya belum melihat bukti atau hasil dari janji-Nya?
  2. Bagaimana sikap saya ketika Tuhan memanggil saya keluar dari zona nyaman—apakah saya taat atau justru mencari alasan untuk menolak?
  3. Apakah saya bersedia melangkah dalam iman, meskipun masa depan belum jelas seperti yang dialami Abraham?
  4. Dalam menghadapi ujian hidup yang berat, apakah saya tetap setia kepada Tuhan atau mudah menyerah?
  5. Apa langkah nyata yang bisa saya lakukan hari ini untuk hidup lebih taat dan beriman kepada Tuhan?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you have visited