Mengenal Sumber Cinta Sejati | |
| - Jawaban.com - View: 565 times Februari, dikenal dengan bulan "Cinta" karena dikaitkan dengan Valentine. Warna pink, bunga, symbol cinta dan juga berbagai hadiah menjadi alat perwujudan cinta. Banyak orang bicara cinta sejati, dan mengharapkannya, namun tidak sedikit yang kecewa karena semua itu didapatkannya. Bicara tentang cinta sejati, mari kita kembali pada sumber cinta sejati itu, Tuhan. Cinta Tuhan kepada umat-Nya tidak tergantung pada situasi dan kondisi ataupun pribadi umat-Nya. Hal ini dibuktikan oleh Yesus Kristus, yang datang kedunia ini, untuk menyatakan cinta-Nya. Cinta-Nya tidak bertambah ketika Anda sedang menggebu-gebu mengasihinya. Kebaikan hati Anda tidak menambah cinta-Nya pada Anda. Inilah yang dikatakan Alkitab tentang umat pilihan Tuhan : "Kamu dicintai dan dipilih TUHAN, bukan karena kamu lebih besar dari bangsa-bangsa lain; sesungguhnya kamu adalah bangsa yang paling kecil di muka bumi." ~ Ulangan 7:7 (BIS). Tuhan mengasihi kita karena Dia memilih untuk melakukannya, sesederhana itu.
Seperti firman-Nya pula di dalam kitab Nabi Hosea, bunyinya, "Yang bukan kaum-Ku itu akan Kusebutkan kaum-Ku; dan yang bukan dikasihi itu akan Kusebutkan kekasih-Ku." Roma 9:25 (TL). Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu. Yeremia 31:3. Kasih kita sebagai manusia tergantung pada kasih yang kita terima. Sekalipun seribu orang lewat di depan kita, perasaan kita terhadap masing-masing orang itu pasti berbeda. Cinta kita akan dipengaruhi penampilan mereka, dan kepribadiaannya. Bahkan ketika kita temukan beberapa orang yang kita sukai, perasaan kita pada mereka naik turun. Bagaimana perlakuan mereka pada kita akan menentukan sebesar apa cinta kita terhadap mereka. Namun tidak dengan cinta Tuhan pada kita. Cinta-Nya itu lahir dari dalam hati-Nya, bukan berdasarkan apa yang Ia dapatkan dari kita. Inilah cinta sejati itu. Untuk memiliki cinta sejati ini, melekatlah pada Dia sang Cinta itu sendiri. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. ~ 1 Yohanes 4:16 Sumber: Max Lucado.com | |
Jumat, 12 Februari 2010
Mengenal Sumber Cinta Sejati
Rabu, 10 Februari 2010
Asal Kerja=Asal Ibadah=Ngasal
Asal Kerja=Asal Ibadah=Ngasal | |
| - Jawaban.com - View: 595 times "Asal kerja sering kali menjadi sebuah alasan tepat untuk mengakhiri keadaan menganggur. Tanpa disadari hal tersebut telah mempengaruhi etos kerja subjek menjadi kerja asal-asalan. Hasil kerja yang hanya menjadi cemoohan karena tidak adanya totalitas dalam berkarya."- K-ray Cahyadi Sering kali terdengar seperti ini: Seseorang bekerja di kota besar lalu pulang ke kampung, mendapati sanak saudara atau temannya menganggur di kampung. Lalu terjadi sebuah percakapan seperti ini: Pemudik : "Mendingan kamu ikut saya kerja ke Jakarta daripada menganggur seperti ini."Penganggur : "Kerja apa di sana?"Pemudik : "Ya sudah asal kerja saja, toh daripada menganggur."Dari input tenaga kerja seperti itu, terdapat dua macam hasil output yang mudah sekali dijumpai di kota-kota besar semacam Jakarta. Jenis pertama adalah mereka yang berhasil beradaptasi, membangun kemandirian, berjuang dengan gigih tanpa kenal lelah, akhirnya berhasil memetik kerja keras mereka. Sedangkan output kedua adalah para pelengkap derita, yaitu mereka yang tidak mampu beradaptasi, gagal, akhirnya mimpi mereka membentur karang realita. Para pelengkap penderita ini merasa malu untuk pulang kampung karena mereka menganggap diri mereka sebagai pecundang kehidupan. Tidak sedikit dari mereka pada akhirnya menjadi pelaku kriminal bermacam-macam tindak kejahatan. Berdasar statistik, bila kita membandingkan jumlah populasi golongan yang berhasil dengan para pelengkap derita ini jumlahnya sangat kontras dan signifikan. Para pelengkap derita lebih banyak dibandingkan mereka yang berhasil bertahan atau sukses.
Jauh sebelum proses adaptasi dimulai sebenarnya dorongan mencari kerja saja sudah perlu dipertanyakan, "asal kerja" merupakan sebuah dorongan yang sangat bertanggungjawab pada fenomena ini. Ketika mendengar "asal kerja" secara tidak sadar penganggur tersebut sudah menganggap bahwa dirinya tidak memiliki pilihan, tentunya "tawar-menawar posisi" sudah tereliminasi secara otomatis. Padahal seharusnya tidak ada pilihan justru bisa membuat seseorang fokus dan menghasilkan hal yang besar, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Seperti kasus-kasus klasik, orang-orang yang tidak memiliki pilihan akan melakukan segala sesuatu yang mereka kerjakan dengan terpaksa. Tidak ada lagi kenikmatan dalam segala hal yang mereka kerjakan. Bila bekerja tanpa cinta, maka hasilnya tidak akan pernah maksimal. Jangan pernah berharap hasil kerja dari orang yang "asal kerja" menjadi maksimal sesuai dengan keinginan Anda, karena secara mindset pun mereka sudah berbeda dari Anda. Bekerja haruslah dengan cinta, dengan penuh semangat, karena bekerja adalah salah satu aktualisasi diri yang esensial. Bekerja mengaktualisasikan diri bukanlah monopoli dari mereka, orang-orang di puncak piramida Maslow yang sudah terpenuhi kebutuhan material, keamanan, pengakuannya. Kebutuhan aktualisasi diri adalah hak semua orang. Banyak orang salah kaprah menyatakan bahwa aktualisasi diri hanya bisa dicapai saat semua kebutuhan lain yang lebih mendasar (materi, keamanan, keamanan) sudah tercukupi. Sebenarnya saat Anda mampu mengaktualisasikan diri Anda dalam pekerjaan Anda, secara otomatis Anda pada akhirnya mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain.
Oke, sepanjang itu, tapi apa korelasinya dalam kehidupan rohani? Bila Anda benar-benar mencermati, saat ini kehidupan gereja banyak mengalami kesamaan hal dengan dunia kerja. Mari cermati dialog ini: Pemuda Gereja : Daripada nganggur di hari Minggu, mendingan kamu ikut saya saja ke gereja.Penganggur : Mau ngapain ke gereja?Pemuda Gereja : Yaaaa, yang penting asal gereja aja.Maka inilah yang terjadi: orang-orang asalan tadi akhirnya tidak maksimal beribadah, mereka menganggap ibadah adalah sebuah kegiatan di hari minggu. Sementara hari biasa bukanlah ibadah. "Karena itu demi kemuliaan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati." Apakah Tuhan menerima ibadah yang asal-asalan? Selain itu, banyak gereja saat ini "asal". Saya mencermati beberapa gereja mengalami kemunduran-kemunduran yang begitu nyata, kehilangan visi awal mereka. Mereka saat ini cenderung condong kepada melakukan rutinitas belaka. Pelayanan yang asal-asalan, pengajaran yang asal-asalan, ibadah yang asal-asalan, hanya untuk memuaskan ego, menenangkan diri dengan membayar kewajiban di hari Minggu setelah banyak berdosa seminggu penuh, bahkan ada pendeta asal-asalan (pasti biasanya awalnya: asal jadi pendeta daripada menganggur). Hanya menyampaikan sesuatu yang enak didengar telinga mereka (cari aman). Tidak lagi ada aktualisasi iman, ibadah hanya sekedar ada, tidak lebih tidak kurang. Visipun sudah tidak lagi jelas mau kemana. Ingatlah Roh Tuhan undur dari kehidupan Imam Eli saat ia kehilangan penglihatannya (hilang visi), tidak ada kemajuan berarti (padahal katanya Tuhan adalah sumber segala pengetahuan dan kemajuan).
Bukalah mata, bukalah telinga, waspadalah terhadap berbagai pengajaran. Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik! Mengapa harus diuji? Karena kita tidak dapat menarik makna dari sebuah tanda. Makna bergantung pada konteks. Segala sesuatu yang tidak empiris* adalah sampah, dan untuk menentukan keempirisan sesuatu diperlukan pengujian. Dari apakah kita mengujinya? Buahnya! Kalau buahnya asal-asalan, dipastikan semuanya asal-asalan. Mudah bukan? Demikianlah sedikit ulasan mengenai "asal kerja" dan korelasinya dalam dunia pergerejaan, ubahlah paradigma Anda. Aktualisasikan diri Anda, iman Anda, totalitas dalam bekerja. Perlu diingat bahwa kerja adalah sebagian dari perwujudan iman Anda. Hidup adalah ibadah, dinilai dari totalitas Anda dalam menjalani semua aspek dalam kehidupan Anda. Asal hidup tentunya menghasilkan hidup yang asal-asalan. Resapi, renungkan dan praktekkan. Karena perubahan memerlukan tindakan. Ciao. *empiris berarti suatu keadaan yang bergantung pada bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera. Sumber: Cahyadi Tanujaya Segala sesuatu yang berkaitan dengan isi dan kebenaran dari kisah di atas diluar tanggung jawab Jawaban.com | |
| | |
Jumat, 05 Februari 2010
Gratis Tetapi Tidak Murah
Gratis Tetapi Tidak Murah | |
| - Jawaban.com - View: 2021 times Matius 16:24"Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." Pada awal abad 20, hiduplah seorang pria dari keluarga kaya raya se-antero Amerika Serikat yang bernama Bill Borden. Karena rasa cintanya yang besar kepada Tuhan Yesus, ia tinggalkan semua kekayaannya dan mengambil keputusan untuk menjadi misionaris ke Cina. Namun, itu tinggallah mimpi karena di Mesir, nyawanya sudah tidak ada akibat demam tinggi. Sebelum kematiannya ia menulis, "Tidak ada yang tersembunyi, tidak ada kata mundur, tidak ada penyesalan!"
Seseorang pernah berkata, "Keselamatan memang gratis, tetapi tidak murah." Itu menuntut nyawa Kristus, demikian juga itu akan menuntut kita. Namun, adakah sesuatu yang lebih besar dari keselamatan? Adakah yang lebih memuaskan dari hal itu? Ikutilah Kristus, dan di akhir kehidupan Anda akan mampu berkata, "Tidak ada penyesalan!" Memelihara iman kepada Kristus sampai mati adalah tanda penghargaan Anda terhadap keselamatan yang telah Dia berikan di dalam hidup Anda. Sumber: Hope for Each Day; Billy Graham; Penerbit Metanoia | |
Harapan Besar
Harapan Besar | |
| - Jawaban.com - View: 1828 times Mazmur 16:9 "Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram Seorang penulis kenamaan yang pernah lahir di dunia ini Mark Twain pernah menulis, "Menjauhlah dari orang-orang yang berusaha menghalangi ambisi-ambisi Anda. Orang-orang kecil biasa melakukannya, tetapi yang benar-benar besar membuat Anda merasa bahwa Anda juga dapat menjadi besar." Bagaimanakah perasaan sebagian besar orang di sekitar Anda? Apakah mereka merasa kecil atau tidak berarti, atauhkah mereka percaya diri dan mempunyai harapan besar tentang masa depan mereka?
Harapan mungkin adalah karunia terbesar yang dapat Anda berikan kepada orang lain. Bila orang itu gagal melihat arti dirinya sendiri, ia masih mempunyai alasan untuk tetap berusaha dan bekerja keras untuk mencapai potensi di masa depan karena apa yang Anda tunjukkan dan perkatakan telah mempengaruhi kehidupannya. Panggilan Allah bagi Anda bukanlah menjadi orang biasa saja, melainkan menjadi orang yang menginspirasi hidup banyak orang. Sumber: Leadership, Janji Tuhan untuk Setiap Hari; John C.Maxwell; Penerbit Immanuel | |