Jumat, 09 Mei 2014

Foto-Foto Menyedihkan Balita Yang Tinggal Dengan Orang Tua Pecandu Narkoba

Rusia - Setiap anak berhak mendapat kehidupan yang layak dan aman. Namun seorang balita perempuan bernama Asfina dari Rusia tinggal dengan orang tua pecandu narkoba. Setiap hari dia akrab dengan asap rokok, narkoba dan kekerasan.

Foto-foto yang akan Anda lihat ini diambil oleh Irina Popova untuk sebuah esai berjudul Another family. Niat awal Irina adalah menemukan cinta pada masyarakat pinggiran. Sayangnya, foto-foto yang mendapat penghargaan ini menuai kecaman dan kritik di dunia online. Irina dianggap mengambil keuntungan dengan tidak melaporkan orang tua Asfina pada polisi, dilansir oleh dailymail.co.uk.

Asfina saat menggigit rokok yang belum dinyalakan | Foto: dailymail.co.uk/Irina Popova
Asfina saat menggigit rokok yang belum dinyalakan | 

Kemarahan masyarakat Rusia meledak melihat Asfina dalam foto-foto. Dalam beberapa foto, tampak Asfina menggigit rokok yang belum dinyalakan, dia juga tampak tidur dengan orang tuanya yang tidak memakai pakaian sama sekali. Di foto yang lain, tampak orang tua Asfina sangat tidak sehat, Asfina merangkak ke dekat jendela lantai atas dan foto lain yang cukup menyedihkan, penuh obat-obatan dan minuman keras.


Asfina jarang diawasi, bahkan dalam posisi berbahaya di dekat jendela lantai atas | Foto: dailymail.co.uk/Irina Popova

Asfina jarang diawasi, bahkan dalam posisi berbahaya di dekat jendela lantai atas | Foto: dailymail.co.uk/Irina Popova

Popova sama sekali tidak menyangka dirinya akan diserang habis-habisan akibat foto-fotonya. Wanita itu mengambil foto keluarga Asfina di tahun 2008. Kemudian foto-foto itu dipajang di galeri St. Petersburg dan mendapat penghargaan. Namun setelah foto-foto itu tersebar secara online, pihak kepolisian mulai menanyakan Popova tentang keberadaan orang tua Asfina.


Ibu Asfina membawa Asfina dalam kereta bayi | Foto: dailymail.co.uk/Irina PopovaIbu Asfina membawa Asfina dalam kereta bayi | Foto: dailymail.co.uk/Irina Popova

Kabar terbaru menyebutkan bahwa ibu Asfina meninggalkannya dengan sang ayah. Wanita itu mencari pengobatan agar tidak kecanduan lagi dan bekerja di toko pakaian. Sedangkan Asfina tinggal bersama ayahnya yang saat ini bekerja sebagai tukang listrik dan memiliki pasangan baru. Saat ini Asfina sudah 4 tahun dan sudah sekolah di taman kanak-kanak.

Semoga saja potret ini membuat kita lebih peduli pada anak-anak di sekitar kita. Jika Anda ingin melihat foto Asfina yang lain, silakan melihat galeri di bawah ini.

Sumber: Vemale.com - 

Kamis, 08 Mei 2014

Tanggapan Jokowi soal Pernyataan SBY mengenai "Janji Capres yang Berbahaya"

JAKARTA,  — Bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P Joko Widodo merespons pernyataan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikan melalui Youtube, Rabu (7/5/2014). Dalam pernyataannya, SBY mengatakan, ada capres yang menebar janji kampanye membahayakan negara. Janji berbahaya yang dimaksudnya terkait dengan nasionalisasi aset asing. 
                                                      (Baca: SBY Sebut Ada Janji Capres yang Berbahaya)

"Saya kira negara kita ini terbuka terhadap investasi," ujar Jokowi, di Kantor Kompas Gramedia, Jakarta Barat, Rabu sore.

Menurut dia, yang terpenting apakah investasi asing tersebut memberikan keuntungan kepada rakyat atau tidak. Jokowi mengatakan, investasi yang menguntungkan rakyat Indonesia seharusnya tak menjadi persoalan. Oleh karena itu, Jokowi mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia harus mempersiapkan semua aspek, baik sumber daya manusia maupun regulasi untuk menghadapi investasi asing yang mengancam rakyat Indonesia.

"Memang harus siap dari semua sisi, kita harus menyiapkan diri," lanjut Jokowi.

Sebelumnya, Presiden RI yang juga Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, ada capres yang menebar janji kampanye membahayakan negara. Janji berbahaya yang dimaksudnya terkait dengan nasionalisasi aset asing.

Menurut Susilo Bambang Yudhoyono, kampanye semacam itu memang mencitrakan sang capres sebagai pemimpin berani dan tegas. Namun, jika dilaksanakan, maka Indonesia akan dituntut pengadilan internasional dan akhirnya berdampak besar bagi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.

"Saya tidak akan mendukung capres yang janji kampanyenya membahayakan negara," ujar SBY.


Sumber: KOMPAS.com

Rabu, 07 Mei 2014

Gajah vs Semut ( 6 Partai vs 2 Partai )

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Refrizal mengungkapkan koalisi tenda besar yang selama ini tengah dibangun oleh Partai Gerindra untuk mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden sedikitnya akan diperkuat enam partai politik.
"Insya Allah segera terbentuk koalisi PKS, Gerindra, Golkar dan Hanura serta bisa juga tambah PPP dan PAN," kata Refrizal melalui keterangan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/5/2014), seperti dikutip dari Antara.
Dia mengatakan, koalisi itu hampir dipastikan terbentuk dan tidak akan berubah-ubah lagi. PKS bersama koalisi tenda besar itu siap berjuang untuk memenangkan Pilpres 2014. Menurut dia, bagi PKS yang terpenting adalah adanya semangat kebersamaan membangun bangsa dan negara.
"Bila koalisi tersebut ditakdirkan menang dalam pilpres, maka akan sama-sama memerintah, dan bila takdirnya kalah sama-sama oposisi. Tetapi kami PKS akan berjuang untuk menang," ucapnya.
Sementara itu, perihal sosok Prabowo yang kerap dikaitkan dengan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), Refrizal menyatakan hal itu sudah diklarifikasi oleh seluruh partai koalisi.

Sebelumnya, Gerindra acap kali menyebut tengah membangun sebuah koalisi tenda besar yang terdiri dari banyak partai. Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto terus melakukan komunikasi politik dengan partai-partai lain. Terakhir, Prabowo berencana berduet dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical dalam Pilpres setelah Ical bersedia turun kelas menjadi cawapres.

Golkar Tergantung Elektabilitas Jokowi

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan DPP Partai Golkar Indra J Piliang mengatakan, partainya tengah mempertimbangkan untuk berkoalisi dengan Partai Gerindra. Akan tetapi, untuk sampai pada keputusan ini, ada sejumlah hal yang akan menjadi catatan.

Salah satu yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan koalisi dengan Gerindra adalah elektabilitas bakal calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo. Indra mengatakan, jika elektabilitas Jokowi masih tak terkalahkan, maka Golkar kemungkinan akan memilih untuk tetap mengusung Aburizal Bakrie sebagai capres.

"Arahnya bisa ke Gerindra. Tapi itu pun dengan beberapa catatan ke depan. Artinya kami sama-sama membaca hasil survei dan kekuatan politik yang ada. Kalau Jokowi sulit dikalahkan di putaran pertama, bisa jadi ARB (Ical) maju sebagai capres," ujar Ketua Balitbang DPP Partai Golkar Indra J Piliang di Jakarta, Selasa (6/5/2014).

Sebaliknya, jika survei menunjukkan elektabilitas Jokowi melemah, Golkar akan bergabung dengan gerbong koalisi yang berpeluang memenangkan pertarungan. Pilihannya, kemungkinan seluruh kekuatan akan dipusatkan dalam koalisi besar yang digalang Gerindra.

"Kalau lebih mudah mengalahkan Jokowi di putaran pertama, kekuatan akan kami gabungkan," kata dia.

Jika Golkar resmi bergabung dengan Partai Gerindra, Indra menyatakan, maka kemungkinan besar Ical akan direstui Rapat Pimpinan Nasional untuk maju sebagai bakal calon wakil presiden bagi Prabowo. Pasalnya, meski ada pertarungan di internal partai, Ical tetap memiliki kewenangan dalam menandatangani surat dukungan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

"Yang tanda tangan nanti kan Ketum dan Sekjen. Jadi rasanya agak sulit untuk mengubah haluan tidak ke Gerindra," ucap Indra.

Seperti diberitakan, Ical bertemu Prabowo di Hambalang, Bogor, pada Senin (5/5/2014) lalu. Seusai pertemuan, Ical menyatakan tidak keberatan jika maju sebagai bakal calon wakil presiden mendampingi bakal calon presiden dari Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Menurut dia, jabatan presiden atau wakil presiden hanya instrumen yang tak perlu diributkan.

"Saya enggak keberatan (jadi cawapres), Pak Prabowo juga enggak keberatan," kata Ical seusai menemui Prabowo di Hambalang, Bogor, Senin (5/5/2014).

Ical mengaku sudah menemukan kesepakatan mengenai sikap politik dalam menghadapi pemilihan presiden. Meski tak disebutkan secara gamblang, sinyalnya pun semakin kuat bahwa koalisi Partai Golkar dan Gerindra akan segera terealisasi.

"Mau di nomor satu, nomor dua, enggak masalah. Posisi presiden dan wakil presiden hanya instrumen untuk mewujudkan kebaikan bangsa, kebaikan negara," ujarnya.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: