Jumat, 09 Mei 2014

Pamer yang salah sasaran

Bukan sekali ini saja kedua tokoh terlihat dengan helikopter atau kuda impor. Saat mengunjungi beberapa lokasi kampanye pemilu legislatif lalu, misalnya, Aburizal kerap menggunakan helikopter. Sementara Prabowo menunggangi kuda kesayangannya saat berkampanye di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.

Pakar psikologi politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk menilai, ada kesan Prabowo dan Aburizal memang ingin memamerkan gaya politik mewahnya itu di depan media dan publik. Namun, kata dia, image yang terbentuk justru menjadi tidak konsisten dengan visi Aburizal dan Prabowo.

“Ini image yang dipamerkan salah sasaran, jadi enggak nyambung. Prabowo dan Ical mau bicara kerakyatan, tapi mereka sendiri tidak memberikan contoh. Hanya retorika saja, ucapan tidak konsisten dengan tindakan,” kata Hamdi. Dalam kampanyenya, kedua tokoh kerap menyuarakan hak-hak rakyat kecil.

Hamdi menilai, kemewahan berupa helikopter dan kuda impor seperti yang dipertunjukkan Ical dan Prabowo tidak akan menarik simpati dan perhatian rakyat. Pasalnya, kini rakyat lebih memilih pemimpin yang merakyat dan jauh dari kesan mewah.

Untuk menciptakan kesan merakyat, menurut dia, seharusnya pemimpin langsung turun mengunjungi masyarakat di akar rumput. “Harusnya seperti Jokowi (bakal capres PDI-P). Jokowi konsisten, dia mengatakan akan memperjuangkan nasib rakyat kecil, dia langsung turun blusukan ke bawah. Dengan begitu, rakyat akan lebih simpati,” ujarnya.

Foto-Foto Menyedihkan Balita Yang Tinggal Dengan Orang Tua Pecandu Narkoba

Rusia - Setiap anak berhak mendapat kehidupan yang layak dan aman. Namun seorang balita perempuan bernama Asfina dari Rusia tinggal dengan orang tua pecandu narkoba. Setiap hari dia akrab dengan asap rokok, narkoba dan kekerasan.

Foto-foto yang akan Anda lihat ini diambil oleh Irina Popova untuk sebuah esai berjudul Another family. Niat awal Irina adalah menemukan cinta pada masyarakat pinggiran. Sayangnya, foto-foto yang mendapat penghargaan ini menuai kecaman dan kritik di dunia online. Irina dianggap mengambil keuntungan dengan tidak melaporkan orang tua Asfina pada polisi, dilansir oleh dailymail.co.uk.

Asfina saat menggigit rokok yang belum dinyalakan | Foto: dailymail.co.uk/Irina Popova
Asfina saat menggigit rokok yang belum dinyalakan | 

Kemarahan masyarakat Rusia meledak melihat Asfina dalam foto-foto. Dalam beberapa foto, tampak Asfina menggigit rokok yang belum dinyalakan, dia juga tampak tidur dengan orang tuanya yang tidak memakai pakaian sama sekali. Di foto yang lain, tampak orang tua Asfina sangat tidak sehat, Asfina merangkak ke dekat jendela lantai atas dan foto lain yang cukup menyedihkan, penuh obat-obatan dan minuman keras.


Asfina jarang diawasi, bahkan dalam posisi berbahaya di dekat jendela lantai atas | Foto: dailymail.co.uk/Irina Popova

Asfina jarang diawasi, bahkan dalam posisi berbahaya di dekat jendela lantai atas | Foto: dailymail.co.uk/Irina Popova

Popova sama sekali tidak menyangka dirinya akan diserang habis-habisan akibat foto-fotonya. Wanita itu mengambil foto keluarga Asfina di tahun 2008. Kemudian foto-foto itu dipajang di galeri St. Petersburg dan mendapat penghargaan. Namun setelah foto-foto itu tersebar secara online, pihak kepolisian mulai menanyakan Popova tentang keberadaan orang tua Asfina.


Ibu Asfina membawa Asfina dalam kereta bayi | Foto: dailymail.co.uk/Irina PopovaIbu Asfina membawa Asfina dalam kereta bayi | Foto: dailymail.co.uk/Irina Popova

Kabar terbaru menyebutkan bahwa ibu Asfina meninggalkannya dengan sang ayah. Wanita itu mencari pengobatan agar tidak kecanduan lagi dan bekerja di toko pakaian. Sedangkan Asfina tinggal bersama ayahnya yang saat ini bekerja sebagai tukang listrik dan memiliki pasangan baru. Saat ini Asfina sudah 4 tahun dan sudah sekolah di taman kanak-kanak.

Semoga saja potret ini membuat kita lebih peduli pada anak-anak di sekitar kita. Jika Anda ingin melihat foto Asfina yang lain, silakan melihat galeri di bawah ini.

Sumber: Vemale.com - 

Kamis, 08 Mei 2014

Tanggapan Jokowi soal Pernyataan SBY mengenai "Janji Capres yang Berbahaya"

JAKARTA,  — Bakal calon presiden dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDI-P Joko Widodo merespons pernyataan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang disampaikan melalui Youtube, Rabu (7/5/2014). Dalam pernyataannya, SBY mengatakan, ada capres yang menebar janji kampanye membahayakan negara. Janji berbahaya yang dimaksudnya terkait dengan nasionalisasi aset asing. 
                                                      (Baca: SBY Sebut Ada Janji Capres yang Berbahaya)

"Saya kira negara kita ini terbuka terhadap investasi," ujar Jokowi, di Kantor Kompas Gramedia, Jakarta Barat, Rabu sore.

Menurut dia, yang terpenting apakah investasi asing tersebut memberikan keuntungan kepada rakyat atau tidak. Jokowi mengatakan, investasi yang menguntungkan rakyat Indonesia seharusnya tak menjadi persoalan. Oleh karena itu, Jokowi mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia harus mempersiapkan semua aspek, baik sumber daya manusia maupun regulasi untuk menghadapi investasi asing yang mengancam rakyat Indonesia.

"Memang harus siap dari semua sisi, kita harus menyiapkan diri," lanjut Jokowi.

Sebelumnya, Presiden RI yang juga Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, ada capres yang menebar janji kampanye membahayakan negara. Janji berbahaya yang dimaksudnya terkait dengan nasionalisasi aset asing.

Menurut Susilo Bambang Yudhoyono, kampanye semacam itu memang mencitrakan sang capres sebagai pemimpin berani dan tegas. Namun, jika dilaksanakan, maka Indonesia akan dituntut pengadilan internasional dan akhirnya berdampak besar bagi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.

"Saya tidak akan mendukung capres yang janji kampanyenya membahayakan negara," ujar SBY.


Sumber: KOMPAS.com

Rabu, 07 Mei 2014

Gajah vs Semut ( 6 Partai vs 2 Partai )

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Refrizal mengungkapkan koalisi tenda besar yang selama ini tengah dibangun oleh Partai Gerindra untuk mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden sedikitnya akan diperkuat enam partai politik.
"Insya Allah segera terbentuk koalisi PKS, Gerindra, Golkar dan Hanura serta bisa juga tambah PPP dan PAN," kata Refrizal melalui keterangan tertulis kepada wartawan di Jakarta, Rabu (7/5/2014), seperti dikutip dari Antara.
Dia mengatakan, koalisi itu hampir dipastikan terbentuk dan tidak akan berubah-ubah lagi. PKS bersama koalisi tenda besar itu siap berjuang untuk memenangkan Pilpres 2014. Menurut dia, bagi PKS yang terpenting adalah adanya semangat kebersamaan membangun bangsa dan negara.
"Bila koalisi tersebut ditakdirkan menang dalam pilpres, maka akan sama-sama memerintah, dan bila takdirnya kalah sama-sama oposisi. Tetapi kami PKS akan berjuang untuk menang," ucapnya.
Sementara itu, perihal sosok Prabowo yang kerap dikaitkan dengan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), Refrizal menyatakan hal itu sudah diklarifikasi oleh seluruh partai koalisi.

Sebelumnya, Gerindra acap kali menyebut tengah membangun sebuah koalisi tenda besar yang terdiri dari banyak partai. Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto terus melakukan komunikasi politik dengan partai-partai lain. Terakhir, Prabowo berencana berduet dengan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie alias Ical dalam Pilpres setelah Ical bersedia turun kelas menjadi cawapres.