Selasa, 31 Maret 2015

Pendemo Kesal Dibayar Cuma Rp 50.000, Tak Bertemu Ahok Pula

JAKARTA, KOMPAS.com — Para pendemo yang datang dari Masyarakat Anti Korupsi (Mars) merasa kecewa saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Balai Kota, Senin (30/3/2015). Sebab, mereka dan perwakilan tokoh Betawi lainnya tidak bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Kelompok ini melakukan aksi sejak pukul 11.00 hingga 13.30. Mereka meminta klarifikasi terkait pernyataan Basuki perihal pemberian nama sapi "USB" (untuk sapi Betawi) saat di Rumpin, Kabupaten Bogor.  (Baca: Ahok Beri Nama Sapi di Bogor "USB")

"Kita sudah (dibayar) gocap (Rp 50.000) gini doang. Sudah enggak bertemu Ahok (Basuki), shalat dzuhur juga kagak. Rugi dua kali lipat nih gue," kata pria yang sedang memegang mikrofon untuk menyampaikan aspirasi di depan Balai Kota DKI Jakarta itu. 

Dia juga mengaku kecewa dengan sedikitnya jumlah orang yang hadir untuk melakukan aksi unjuk rasa. Padahal, awalnya sudah ada niat untuk menggandeng Front Pembela Islam (FPI) dan organisasi lain agar aksi lebih besar.

Dia juga mengaku sempat dibisiki beberapa oknum agar membuat aksi unjuk rasa berujung ricuh. Namun, dia justru curhat saat mengikuti aksi FPI beberapa waktu silam saat menuntut Basuki mundur dari jabatannya sebagai Gubernur DKI.

"Tadi ada yang teriak chaos-chaos, giliran gue di dalam (penjara), Lebaran di dalam (penjara), lu yang teriak-teriak di luar. Ogah gue masuk barracuda lagi," kata dia tertawa. (Baca: Gara-gara Beri Nama Sapi "USB", Ahok Didemo)

Sekitar pukul 14.00, massa Mars dan beberapa tokoh Betawi sudah meninggalkan Balai Kota.


Penulis: Kurnia Sari Aziza
Editor : Ana Shofiana Syatiri

Senin, 30 Maret 2015

Ahok Akan Menobatkan Prasetyo Edi Marsudi Sebagai Raja Lapas Ciangir

uploads--1--2014--11--94476-prasetyo-edi-ketua-dprd-dki-jakarta-sindir-sikap-kmp-seperti-infotainmentISLAMTOLERAN.COM- Ahok sedang menghitung-hitung manfaat dana siluman sebesar Rp 12,1 triliun, dalam benaknya segera terobsesi untuk membangun Lapas bertaraf Internasional yang dilengkapi dengan semua fasilitas penunjang kebutuhan hidup modern, semua fasilitas tersedia disana, bak sebuah Istana, memang sesungguhnya akan dibuatkan sebuah Istana Lapas.
Dari hasil rancang bangun AHok, lapas ini diperuntukan khusus untuk para koruptor yang berasal dari DPRD DKI, lalu apa saja yang dapat kita ketahui tentang obsesi AHok untuk pembangunan Istana lapas itu. Sebuah Istana Lapas yang menempati wilayah sangat luas, akan tetapi akan dibuat terisolasi dari dunia luar, terpisah dengan dunia terang.

Hebaaat ide yang cemerlang yang dibuat Ahok. Istana Lapas, berada dalam jarak yang jauh, jauh sekali dengan dunia yang kita diami saat ini. Jarak yang jauh artinya mereka tak dapat berkomunikasi dengan hati, karena mereka sudah kehilangan hati, sudah kehilangan nurani.
Mereka dibuat selalu berada di dalam Istana yang merupakan dunia gelap. Wilayahnyapun khusus tak sembarang manusia dapat masuk kedalamnya. Lalu Ahok dengan Dana sebesar Rp 21,1 Triliun caranya sengaja ingin menginak bobokan penghuni Istana lapas yang sekarang sudah menjadi alam yang serba gelap pada diri mereka.

Didalam Istana Lapas itu tak ada penerangan satu buah lampupun, karena lampu yang ada telah mereka matikan untuk selamanya, yaitu lampu mata hati. Lampu Mata Hati atau lampu hati nurani akan mati dengan sendirinya ketika para pemilik lampu memakan harta haram. Harta haram yang diperoleh dengan cara merampok uang negara atau uang rakyat.
Kini para perampok masih hidup bebas, mempermainkan APBD dengan kekuasaan politik di DPR secara berjamaah, saat sekarang sedang bersuka ria menikmati dana siluman hasil jarahan uang rakyat. Calon penghuni Istana lapas Ciangir, tidak lain adalah para anggota DPRD yang rakus pemakan harta haram.

Mereka terdiri atas para rajanya dana siluman yang sudah bertahun-tahun mengatur menginterogasi, memaksa, SKPD-SKPD, agar memasukan usulan-usulan bermacam titipan item anggaran sehingga prioritas anggaran menjadi terbengkelai, karena selalu dijegal dengan adanya anggaran siluman itu.
Tidak masuk akal sehat, sangat mahal dan manipulatif, pengadaan buku trilogi Ahok senilai Rp 30 miliar dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah 2015 menurut hasil interogasi adalah bukan usulan Dinas, semua itu murni usulan DPRD. Sebab, dalam pembahasan di tingkat komisi, tidak ada kegiatan seperti itu.

Permainan tingkat tinggi memanipulasi APBD sehingga muncul Anggaran siluman tidak lepas dari petinggi ketua dan para wakil ketua DPRD DKI. mereka adalah Prasetyo Edi Marsudi, M Taufik, Haji Lulung, Triwisaksana. Apakah mereka ini kelak akan terlibat dan akan dijadikan tersangka?
Penyelidikan berjalan terus dari KPK, Kepolisian, Kejaksaan, sebagai balasan AHok kepada anggota Dewan yang melayangkan hak angketnya kepada Gubernur DKI AHok. Jika DPRD dengan gayanya yang seolah meyakinkan melayangkan Angket, maka Ahok dengan PEDE-nya mengerahkan KPK, POLRI, Kejaksaan, untuk melakukan penyelidikan kepada anggota Dewan.
Jika Begini naga-naganya benar apa yang dikatakan banyak orang, AHok akan menyeret para politisi kedalam Hotel Prodeo. Oleh AHok akan disiapkan tempat Khususnya berupa Istana Lapas Ciangir masuk wilayah Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Mereka yang masuk dalam target adalah para pimpinan di DPRD, yaitu,

Prasetyo Edi Marsudi kelak di Istana Lapas bertindak sebagai Rajanya, dia ini seorang yang berasal dari partai pemenang pemilu PDIP. Kader yang dianggap sangat produktif menghasilkan uang untuk mendanai partai, sangat disayang oleh ketua umumnya Megawati.
Calon penghuni lapas kedua adalah Maha Patih M Taufik, bagi dirinya menjadi penghuni Istana Lapas tidak membuatnya kaget, karena sudah pernah menjalaninya ketika masih menyandang sebagai penggede premandan Taufik kala itu tersandung hukum. Ia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan alat peraga Pemilu 2004.

Ia kemudian divonis selama 18 bulan pada 27 April 2004 lalu karena merugikan negara sebesar Rp 488 juta. Nasib kehidupannya di Istana Lapas Ciaring M Taufi diperkirakan akan menjadi andalan Istana Lapas sangat berwibawa dan seram, disamping Istana Lapas yang selalu gelap tanpa penerangan. Maksudnya penghuninyapun gelap tanpa penerangan hati.

Calon penghuni ketiga Istana Lapas adalah Haji Lulung, seorang yang selalu menampilkan sosok seorang yang berpegang teguh kepada syaria’at agama, partai yang menjadi payung naungannya adalah PPP, sebuah partai Islam yang menjadi kebanggaannya. PPP ini berprestasi mengantarkan Mantan Ketua Umumnya SDA menjadi tersangka Korupsi dana Haji Abadi Umat.

Calon penghuni Istana Lapas Modern Ciangir berikutnya adalah Triwisaksana, politisi PKS yang sangat potensial, dia tidak tercemari oleh over dosis kolesterol jahat dari daging sapi, akan tetapi akbat pergaulannya dengan para mavia siluman anggaran menjadikan dirinya terseret kedalam penghuni Istana lapas Ciangir yang sangat modern namun serba gelap itu.

Akhirnya AHOk berjalan sambil tersenyum penuh keyakinan inilah saatnya Para pimpinan DPRD DKI tahu diri sekali-kali merasakan hidup di Hotel Prodeo, walaupun berupa Istana Baru Istana Lapas Ciangir yang modern tetapi tetapi mirip istana hantu.
Salam Kompasiana

Penulis: Imam Kodri (seorang kompasianer)

Minggu, 16 November 2014

Gerakan Dukung Ahok Jadi Gubernur DKI

JAKARTA, KOMPAS.com — Gerakan mendukung Basuki Tjahaja Purnama menjadi gubernur DKI Jakarta muncul pada hari bebas kendaraan bermotor atau car free day (CFD) di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (16/11/2014). Setidaknya ada dua kelompok yang menggalang dukungan untuk pria yang akrab disapa Ahok itu.
Kelompok pertama mengatasnamakan Barisan Relawan Indonesia. Relawan yang dimotori oleh Jeffri Sondakh ini menggalang dukungan dengan mengumpulkan tanda tangan warga yang tengah berolahraga. Sudah tiga kali kegiatan serupa ia gelar bersama teman-temannya.
"Ada sepuluh spanduk dari tiga kali kegiatan tiap minggu di CFD ini. Rencananya, Senin (17/11/2014), akan kami serahkan dukungan ini kepada Pak Ahok (Basuki) di Balai Kota," kata Jeffri kepada wartawan di lokasi, Minggu.
Ia mengaku senang atas antusiasme warga Jakarta yang ikut menandatangani dan menuliskan kalimat positif kepada Basuki. Hal itu, lanjut dia, menunjukkan warga Jakarta sudah pintar dan tidak terpengaruh dengan isu SARA yang diarahkan kepada Ahok.
Jeffri yang sudah mendukung Ahok sejak menjadi calon Wakil Gubernur DKI pada Pilkada 2012 itu meyakini bahwa Ahok mampu membawa pembaruan bagi Ibu Kota.
"Jakarta yang bebas korupsi, menerapkan revolusi mental untuk kinerja aparatur setempat. Ketika Jokowi menjadi presiden, keinginan kami tercapai dan sekarang saatnya menyukseskan Ahok jadi gubernur," kata Jeffri.
Ia mengaku akan terus mendukung langkah Ahok membangun Jakarta Baru hingga dua periode. Basuki, menurut Jeffri, telah memberi contoh seorang pejabat yang bekerja dan memprioritaskan pelayanan kepada warganya.
"Untuk orang-orang yang tidak ingin Ahok jadi gubernur, berarti orang itu pro-korupsi dan pro-Jakarta untuk 'dipisah-pisahkan'. Kita ini hidup Bhinneka Tunggal Ika," ujar dia.
Sekelompok warga lainnya juga mendukung Basuki menjadi gubernur DKI dengan membentangkan spanduk di Bundaran HI. Mereka menamakan diri Relawan Ahok DKI 1.
Dalam aksinya, mereka membentangkan dua spanduk sepanjang 1,5 x 5 meter di air mancur Bundaran HI. Satu spanduk bergambar Basuki mengenakan seragam kepala daerah berwarna putih dan bertuliskan "Basuki Tjahaja Purnama Menerangi Jakarta". Spanduk lain bertuliskan "Lawan Isu SARA, Jakarta Religius, Damai, Aman, dan Nyaman".
Aksi mereka menarik perhatian warga Jakarta yang sedang melintas. Warga secara bergantian mengambil gambar sambil memegang spanduk tersebut.
Pada Jumat (14/11/2014), DPRD DKI telah mengumumkan Basuki menjadi gubernur DKI Jakarta. DPRD telah melayangkan surat rekomendasi pelantikan Basuki menjadi gubernur kepada Kementerian Dalam Negeri.
Empat pimpinan DPRD tidak menghadiri rapat paripurna istimewa tersebut, yakni Mohamad Taufik, Triwisaksana, Ferrial Sofyan, dan Abraham Lunggana. Selain itu, para anggota Dewan yang berasal dari fraksi partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) juga kompak tidak menghadiri rapat paripurna.
Adapun anggota Dewan yang hadir berjumlah 47 orang, yang berasal dari Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Partai Hanura, Fraksi Partai Nasdem, dan Fraksi PKB.

Berdasarkan Perppu Nomor 1 Tahun 2014 Pasal 203 tentang pemerintahan daerah, wakil kepala daerah berhak mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan oleh kepala daerah. Maka dari itu, Basuki berhak menjadi kepala daerah menggantikan Jokowi hingga akhir masa jabatan pada 2017 mendatang.

Jumat, 17 Oktober 2014

PNS DKI BERPESTA PUTAU

Image By: Google


JAKARTA, KOMPAS.com - Jajaran Kepolisian Polsek Kemayoran membekuk dua pria berinisial HK (53) dan AG (41), di Jalan Sumur Batu, Gang Lancar, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Kamis (16/10/2014) sekitar pukul 00.30 WIB. Didapati barang bukti berupa narkoba jenis putau seberat 0,25 gram dari tangan para pelaku.

Menurut Kapolsek Kemayoran, Kompol Suyud, awal mula ditangkapnya pelaku lantaran adanya informasi warga sekitar. Diketahui, aksi AG dan HK tengah menggunakan narkoba di rumah AG.

"Beberapa warga sering melihat rekan AG ini datang ke rumahnya. Salah seorang warga atau saksi curiga dan melihat kedua orang itu sedang asik pesta narkoba. Saat itulah warga itu langsung menghubungi kami," terang Suyud.

Menurut Suyud, AG dan HK diketahui bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), yang masih menjabat sebagai salah satu staf di Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil), Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur. Kedua tersangka ini akhirnya dibekuk tanpa perlawanan saat empat petugas kepolisian berpakaian preman membekuknya.

Kedua pelaku dikenai Pasal 112 (1) Junto Pasal 132 UU No 35 tahun 2009, tentang narkotika. "Ancaman hukuman untuk kedua tersangka ini, minimun 4 tahun dan maksimun 12 tahun," tegasnya.

Untuk mengetahui barang yang haram yang diperoleh pelaku, hingga kini, kata Suyud, kedua pelaku masih dalam pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, hingga kini status kedua tersangka masih aktif bekerja sebagai PNS.

"Dipecat atau belum saya belum tahu, yang pasti kedua pelaku sudah kami tangkap. Untuk mengetahui barang itu di mana mereka peroleh, masih dalam pemeriksaan kepolisian," tutup Suyud.