Sabtu, 22 Agustus 2015

Final Liga Desa NTT vs Maluku Utara

Belitung Timur - Liga Desa Indonesia telah memasuki babak final. Di partai puncak, tim Nusa Tenggara Timur (NTT) akan berhadapan dengan Maluku Utara.

NTT sukses mengamankan tiket final setelah mengalahkan Jawa Barat pada babak semifinal dengan skor 2-1 di Lapangan Sepakbola Desa Mempayak, Kecamatan Damar, Belitung Timur, Rabu (19/8/2015).

Sementara itu, Maluku Utara menang atas Sumatera Barat dengan 1-0 pada laga yang digelar di Stadion Mini Sukamandi.

NTT dan Maluku Utara akan bertarung untuk memperebutkan gelar juara LIDI 2015 Piala Menpora di babak final. Laga final itu akan dihelat di Stadion Utama Belitung Timur, Minggu (23/8) mendatang.

Meski disebut-sebut sebagai calon terkuat juara, Maluku Utara tak mau jemawa. Menurut sang manajer, Buyung Radjiloen, timnya tetap waspada menghadapi NTT. Apalagi, dia menilai NTT memiliki keunggulan di lini tengah.

"Gelandang tengah mereka sangat bagus. Kami akan matikan gelandang NTT ini. Tapi, bagaimana pun kami bisa bermain lebih baik. Kami yakin bisa menang," ungkap Buyung.

Untuk tampil maksimal, Buyung mengatakan bahwa pasukannya diberikan waktu untuk istirahat. Para pemain juga akan diperhatikan asupan gizi dan makanannya.

"Saat ini kami fokus recovery. Kami juga perhatikan makanan mereka. Yang penting pemain jaga kondisi. Kami optimistis bisa mengalahkan NTT dan jadi juara," katanya.

Seperti diketahui, Maluku Utara memiliki dua pemain Indonesia Super League (ISL), yakni Fandy Mochtar dan Djali Ibrahim. Keduanya menjadi magnet tersendiri di LIDI kali ini.

Komposisi Pemain NTT
Kiper
1. Markus Lee
2. Alfredo Hilde
Belakang
1. Jendry Alvian Tefu
2. Agung Putra Mone Ke
3. Reksy Kurniawan
4. Haswandy
5. Aloysius Selan
6. Dedi Bani
Gelandang
1. David Aldero Pramono
2. Zulfikar Atamukin
3. Eptian Wembatoak
4. Ade Rahman Tosari
5. Kristoforus Lao
Depan
1. Alsan Sanda
2. Denny Pramono
3. Vincenta Loudoe
4. Yulius Mauloko
5. Master Pati
Coach : Michael Pep's
Ass. Coach : Willy Dambu

Amalia Dwi Septi - detikSport

Kamis, 20 Agustus 2015

RUSUN JATI NEGARA SETARA APARTEMEN TAPI MASIH ADA RAKYAT YANG MAU TINGGAL DI KAWASAN KUMUH


"Dibandingkan tinggal di tempat lama (bantaran Kali Ciliwung), saya sih mendingan di sini. Sudah berasa tinggal di apartemen," kata Emil (30), salah satu penghuni baru rusunawa tersebut, Kamis (20/8/2015).

Pantauan Kompas.com, saat memasuki salah satu kamar rusun, penghuni langsung berada di ruang utama unit rusun tersebut.

Sebuah wastafel berikut penyangga semen berukuran 30x200 cm, menyatu dengan dinding terdekat dari pintu masuk.

Ruangan tersebut akan berfungsi sebagai ruang keluarga, ruang tamu sekaligus dapur. Tepat di atasnya, sebuah sprinkler pemadam api terpasang di tengah langit-langit di antara pipa paralon yang melintang.

Lalu, sebuah pintu di balik pintu masuk, terdapat kamar mandi berukuran 1x2 meter dengan fasilitas shower dan toilet jongkok.

"Untung WC (toilet)-nya, pakai yang jongkok. Kalau pakai (toilet) yang duduk, agak ribet juga saya kalau mau buang air," kata warga lainnya, Septi (37).
JAKARTA, KOMPAS.com - Dua tower bangunan rumah susun sewa (rusunawa) Jatinegara Barat berdiri megah di Jalan Jatinegara Barat, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur. Sekilas, konsep bangunan tersebut kebih mirip apartemen dibanding kan rusun pada umumnya. Tiap unit rusun memiliki luas 30 meter persegi.
Lalu, apakah fasilitas di dalamnya juga mirip seperti apartemen?
KOMPAS.com/Tangguh SR Fasilitas ruangan di rusun Jatinegara Barat, berdiri dari dua kamar tidur, satu kamar mandi, balkon untuk menjemur pakaian, serta ruang utama multifungsi ruang tamu sekaligus dapur.
Sedangkan di sisi lainnya, dua buah kamar, masing-masing berukuran 2x2 meter dilengkapi jendela kaca vertikal ukuran 50x100 cm.

Kemudian, satu pintu paling pojok dari masing-masing unit rusun, akan menghubungkan penghuni dengan balkon seluas 1x2 meter dengan tembok pembatas sedada orang dewasa.

"Lumayan lah, bisa lihat matahari tenggelam kalau sore. Kalau di tempat sebelumnya (bantaran Kali Ciliwung) boro-boro bisa kelihatan," kata penghuni lainnya, Idris (26). Sementara itu, di lorong menuju unit rusun masing-masing lantai masih terlihat lengang.
Bahkan, suara wajan berbahan aluminium menggema ke ujung lorong saat terjatuh ke lantai. Hal itu menandakan kekosongan unit rusun yang belum seratus persen dihuni oleh warga gusuran Kampung Pulo.


Seperti diketahui sebelumnya, rusunawa Jatinegara Barat diperuntukkan khusus bagi warga Kampung Pulo yang lahannya digusur.