Kamis, 25 Mei 2023

Kitab Yesaya

Bab 1

Pendahaluan dan Latar Belakang

Kitab Yesaya merupakan miniatur dari Alkitab, karena memiliki 66 pasal, yang terdiri dari 39 pasal yang menekankan kebenaran, kekudusan, dan penghakiman memiliki hubungan dengan Perjanjian Lama. Sedangkan 27 pasal membahas tentang kemuliaan Allah yang luar biasa dan tetang keselamatan bagi umat manusia.. Dan ke-27 pasal ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Perjanjia Baru. Dan kitab ini ditulis sejak ekspansi pemerintahan Asyur dan kemunduruan Israel

Yesaya adalah anak dari Amos (bukan nabi Amos). Arti dari nama Yesaya adalah Yeshu’yahu bentuk singkat dari Yeshaiah, yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘Allah keselamatan’ atau ‘Tuhan menyelamatkan’. Selain arti namanya, yang berarti Allah keselamatan, Yesaya juga mendapat kasih karunia dari Allah dan mendapat penglihatan dari Roh Kudus tentang Mesias yang akan datang sebagai juruselamat yang akan mengalami penderitaan yang begitu sadis lalu mati di salib. Pengorbonan Mesias ini adalah untuk penghapusan dosa sekaligus menyediakan keselamatan dan pengharapan bagi bangsa Yahudi dan bangsa-bangsa lain (kafir) yang percaya kepada-Nya.

Kitab Yesaya sering disebut sebagai pangerannya para nabi. Mengapa ia disebut sebagai pangeran para nabi? Karena nubuatan-nubutannya tentang Mesias sangat jelas sekali. Disamping itu juga, Yesaya memiliki kecakapan yang luar biasa dan pengetahuan yang sangat luas tentang dunia. Dijamannya Yesaya memiliki hubungan yang sangat baik dengan pihak istana senghingga ia dengan mudah masuk dan keluar istana.

Pelayanan nabi Yesaya terjadi saat kerjaan Israel terpecah menjadi dua bagian yaitu Kerajaan utara, disebut sebagai "Israel," "Samaria," atau "Efraim," meliputi sepuluh suku Israel. Kerajaan selatan, yang biasanya disebut "Yehuda" dengan ibu kota Yerusalem, terdiri atas suku Yehuda dan Benyamin. Kedua kerajaan ini telah berpaling dari Allah dan hukum-Nya kepada bangsa-bangsa asing dengan dewa-dewa palsu mereka untuk membebaskan mereka dari musuh. Kerajaan utara dikalahkan dan dimusnahkan oleh Asyur pada tahun 722 SM. Yesaya mengingatkan Yehuda bahwa mereka juga akan dibinasakan karena dosa dan kemurtadan mereka (Yes 39:6). Nabi Yesaya diutus Allah untuk melayani kedua kerjaaan ini. Nabi Yesaya kemungkinan lahir di Yerusalem. Lalu menikah dan mempunyai seorang putra (Yes 8:3). Yesaya melayani di empat zaman raja, yaitu zaman raja Uzia, zaman raja Yotam, zaman raja Ahas dan zaman raja Hizkia. Ia juga melayani dalam empat periode yang mengalami krisis:

a. Dalam periode krisis (Pasal 2-5) pada tahun 740-734 SM

b. Masa perang antara Siro - Efraim (Pasal 7-9) pada tahun 734-732 SM

c. Pemberontakan terhadap Asyur (Pasal 10-23) pada tahun 713-711 SM

d. Pemberontakan melawan Asyur dan pengepungan Yerusalem

Dan ia melayani selama 40 tahun sebelum ia meninggal. Yesaya meninggal kurang lebih sekitar tahun 680 SM.

 

Bab 2

Tema dan Isi

1. Tema

Kitab Yesaya bertemakan Keselamatan dari Allah, ini disebabkan karena kata keselamatan itu muncul sebanyak 26 kali dalam kitab ini. Dimulai dari pasal 1-39, dan ini menunjukkan kebutuhan manusia yang terbesar adalah keselamatan. Sedangkan pasal 40-66 berbicara ketetapan-ketetapan Allah yang terutama tentang keselamatan dan keselamatan berasal dari Allah bukan dari manusia serta Allah tampil sebagai pemberi hukum yang tertinggi.

Dari tema yang ada kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa tujuan dari kitab ini sebagai reminder akan bahaya dosa dan pentingnya keselamatan. Yesaya dipilih Allah untuk memperingatkan umat-Nya, yakni bangsa Israel untuk hidup kudus dan setia kepada-Nya. Walaupun rusak moral dan tingkah laku bangsa Israel, namun Allah tetap setia terhadap janji-Nya. Sehingga sekalipun Ia murka dan banyak malapetaka diberikan kepada bangsa ini, Ia masih menyisahkan sebagian orang-orang yang masih tetap setia kepada-Nya. 

2. Isi

a. Allah yang Maha Kudus Israel (1:1-12:6)

Yesaya mendapat panggilan dari Allah untuk menjadi seorang nabi pada masa permerintahan Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia. Pada saat kematian raja Uzia (pasal 6), Nabi Yesaya mendapat penglihatan, ia melihat Allah duduk di tempat yang Maha tinggi. Terdengarlah suarapa para serafim berseru "Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!". Dari seluruh kitab, Yesaya merupakan kitab yang paling terkenal yang menunjuk kepada "yang kudus dari Israel" (1:3-12:6). Ungkapan ini muncul dua belas kali dalam bagian pertama (pasal 1-4) dan empat belas kali bagian yang kedua (pasal 40-66). Dari pemilihan Allah atas bangsa Israel, Allah memerintahkan kepada bangsa Israel yang merupakan umat pilihan-Nya untuk hidup kudus sebab Ia adalah Allah yang maha kudus "kuduslah kamu sebab Aku kudus (Im.11:44-45).

b. Allah sebagai Juruselamat dan pembebas

Selain Ia adalah Allah maha kudus Ia adalah Allah setia kepada janji-Nya. Allah memberikan kehidupan yang berlimpah berkat bagi bangsa Israel. Kegagalan bangsa Israel dalam menjaga kekudusan hidup, Allah harus memberikan pengampunan dan menguduskan mereka dari dosa. Allah sendiri harus menjadi juruselat untuk memberikan pembebasan kepada umat-Nya (pasal 41:14; 43:3; 14).

Nama Yesaya sendiri berarti Allah keselamatan’ atau ‘Tuhan menyelamatkan ini merefleksikan aspek-aspek tentang sifat Allah. Dalam Alkitab Ibrani istilah goel’ atau ‘gaal’ yang kita kenal dengan sebutan yobel (penebus) memiliki arti yang dekat yang menyatakan tentang keselamatan dan pembebasan. Kata kerja "goel" yang berarti "menebus kembali" menekankan kewajiban kaum kerabat atau keluarga dan pembayaran biaya. Dalam hukum Tuarat, pembebas sanak keluarga dibuat untuk melindungi bangsa Israel dari utang sebagai akibat kebangkrutan ekonomi, usaha, terlilit utang dan untuk melestarikan kelangsungan kehidupan keluarga atau silsilah. Dalam Perjanjian Lama yang masuk dalam penebusan sanak keluarga adalah tanah atau harta benda dan orang sebagai penerus dari keluarga yang ditebus. sanak penebus akan menutupi utang dengan tujuan untuk melindungi warisannya atau nama baiknya (Im.25:47-49). c. Sisa

Walaupun Allah murka terhadap dosa bangsa Israel, Ia menunujukan kasih setia-Nya, sehingga ia memberikan penembusan dan penghapusan atas dosa mereka. Dan selalu menyisahkan mereka yang masih setia kepada-Nya. Remnat atau "sisa" adalah sekelompok orang dari bangsa Israel yang selamat dari berbagai malapetaka yang ditimpakan Allah atas bangsa Israel sebagai hukuman atas dosa mereka. Berkelangsungan hidup "sisa" mewarisi kembali janji-janji Allah. Masa depan kelompok ini akan bertumbuh dalam kemurnian, dalam kesetiaan dan akan selamat dari penghakiman Allah.d. Roh Allah

Seperti halnya kitab-kitab lain, khususnya dalam kitab para nabi Roh Allah atau Roh Kuduslah yang memberikan hikmat, pengetahuan, inspirasi dan kemampuan kepada para nabi. Sehingga para nabi dapat mengerti apa yang dikehendaki Allah lewat setiap nubuatan atau penglihatan yang mereka terima. Di dalam kitab Yesaya juga menunujukan bagaimana peran Roh Allah kepada Yesaya: Roh Allah memberikan hikmat dan pengetahuan (pasal 11:2), hamba Allah diurapi oleh Roh Allah, yang diresponi melalui proklamasi tentang kabar baik (pasal 61:1).e. Hamba Allah

Dalam kitab Yesaya, sebutan hamba atau nyanyian hamba ditujukan kepada bangsa Israel. Sebutan bangsa Israel sebagai hambah Allah semakin jelas dan nyata diungkapkan dalam (pasal 41:8-9; 45:4) hamba-Ku Israel atau hamba-Ku Yakub.

Bab 3
Kesimpulan dan Berkat
Kitab Yesaya adalah kitab yang sangat luar biasa. Kitab ini tidak perlu diragukan lagi atas gelar yang diberikan, yaitu ‘kitab pangeran para nabi’. 1Kitab Yesaya mencakup seluruh isi Alkitab, yakni dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. 2Kitab Yesaya Menekankan tentang Allah yang Maha Kudus dan Allah yang menuntut kekudusan bagi setiap umat-Nya. 3Sesuai arti namanya kitab ini berisikan akan janji anugerah keselamatan bagi bangsa Israel yang digenapi dalam pribadi Yesus.
Kitab Yesaya menggambarkan tentang keselamatan yang menjadi kebutuhan utama manusia. Dan usaha Allah untuk menyelamatkan manusia. Allah yang dalam kemahakudusanNya tidak dapat berhubungan dengan manusia yang penuh dengan dosa. Ini menjadi penyebab akan rencana keselamatan yang dinubuatkan nabi Yesaya.
Penulis merasa terhormat mendapat tugas untuk membuat makalah dari nabi-nabi besar. Tak disadari penulis memilih kitab ini untuk dijadikan makalah. Di mana, kitab ini yang menjadi pusat dari semua kitab yang ada. Secara  pribadi, penulis banyak diingatkan Tuhan akan pentingnya keselamatan yang telah kita peroleh dari Allah dan pentingnya menjaga kekudusan hidup. Penulis juga bersyukur menjadi ‘remant/sisa’ dari bangsa Israel rohani yang akan mewarisi janji-janji Allah.
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah kita yang maha kuasa. Karena berkat-Nya tugas ini dapat terselsaikan tepat waktu. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada para hamba Tuhan yang telah menuangkan pikiran mereka dalam beberapa artikel di media online yang menjadi bahan penulisan makalah ini. Penulis juga berterima kasih kepada bapak dosen pengampu yang juga terlibat secara langsung, menjelaskan mengenai kita Yesaya. Sehingga penulis juga dipermudah dalam mencari bahan untuk penulisan makalah ini.
  Penulis sangat terbuka menerima saran dan kritikan yang positif demi perbaikan dalam penulisan makalah ini. Diakhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

 


Sumber :

Latar belakang  :

Ø Kumpulan catatan kompilasi dari Sabda

Ø Wikipedia.org

Ø Artikel SMTK Kota Kupang

Tema dan Isi :

Ø Wikipedia.org

Ø Artikel SMTK Kota Kupang.com

Ø https://biblemu.blogspot.com/2021/02/makalah-tentang-kitab-yesaya.html - Karya: Trisman Jaya Ndraha

Selasa, 02 Mei 2023

Apa Itu Psikologi?

Mengenal Apa Itu Psikologi Kepribadian, Tujuan dan Macamnya | GOODMINDS.ID
Picture:goodminds.id

 

Berdasarkan etimologi, Psikologi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata psyche (psukhe) yang bermakna “berdarah panas” yang berarti “Hidup, jiwa, hantu. Dan kata logos yang berarti ilmu. Jadi Psikologi berarti ilmu jiwa.

Dalam KKBI psikologi adalah ilmu yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan pengaruhnya pada perilaku. Atau ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan jiwa. Gardner Murphy mengatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang mempelajari respon yang diberikan makhluk hidup terhadap lingkungannya. Sedangkan Muhibbin Syah mengatakan bahwa psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia baik secara individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan.

Jadi psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang jiwa atau roh, pikiran, tingkah laku atau perilaku dan reaksi manusia terhadap lingkungan sekitarnya baik secara terbuka maupun secara tertutup. Berbicara tentang manusia dan lingkungan adalah hal yang sangat luas. Setiap manusia memiliki keunikan yang berbeda-beda, demikian juga lingkungannya. Lingkungan sekitar memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk tingkah laku atau perilaku dan reaksi seseorang. Oleh karena itu, setiap individu memiliki tingkah laku dan reaksi yang berbeda-beda sesuai lingkungan yang membentuknya. Ditambah lagi untuk mengetahui pikiran seseorang adalah hal yang sangat sulit. Ilmu psikologi dapat menolong kita dengan beberapa metode dalam mempelajari atau mengenali pikiran dan tingkah kita.

Ilmu psikologi bertujuan memberikan informasi yang dapat diuji kebenarannya. Untuk mendapat informasi maka harus memiliki beberapa metode dalam penelitia sehingga dapat memberikan data atau informasi. Berikut beberapa metode dalam mengumpulkan informasi atau data,

1.  Metode ekperimen laboratorium. Merupakan metode psikologi yang menggunakan percobaan (eksperimen).

2. Metode observasi. Metode observasi sering digunakan untuk penelitian alamiah. Metode ini dapat dilakukan dalam laboratorium tetapi tetap menjaga supaya subjek merasa senang selama penelitian berlangsung di ruang laboratorium.

3. Metode suvei. Metode survei adalah metode penelitian yang menggunakan variabel sebagai alat kajiannya. Variabelnya hampir sama dengan variabel eksperimen laboratorium.

4. Metode tes. Metode ini merupakan instrumen penelitian yang oenting dalam psikologi kontemporer. Metode tes digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang atau sekelompok orang.

5. Metode riwayat kasus / riwayat hidup. Metode ini merupakan sumber data penting untuk memahami seseorang atau masyarakat. Riwayat kasus dipersiapkan melalui reka ulang kasus menurut kronologis peristiwa, catatan-catatan, atau rekaman-rakaman yang diingat.

 

Metode-metode ini dapat kita gunakan dalam mencari atau menggali informasi dari dalam diri seseorang. Tapi inipun belum cukup karena, kita tahu bahwa pikiran manusia berada didalam otak. Jadi, untuk mengetahui otak manusia adalah hal yang sangat sulit, tetapi beberapa metode diatas dapat menolong kita untuk mendapatkan beberapa data yang dapat kita gunakan dalam penelitian yang berhubungan dengan psikis seseorang. Dan sebagai orang percaya (Kristen) kita dapat mengandalkan peran Roh Kudus dalam proses menangani atau mengkonseling seseorang yang membutuhkan pertolongan.

 

 

Sumber:

Artikel tentang psikologi di beberapa website “ Kompas.com, tambahpintar.com, dan diktat STT LETS 2015.

 

Selasa, 11 April 2023

NAMA-NAMA ALLAH

     A. Nama-Nama Allah Secara Umum

Nama-Nama Tuhan dalam Bahasa Ibrani  

    Alkitab mencatat sejumlah nama-nama Allah, Alkitab juga membicarakan nama-nama Allah dalam bentuk tunggal, misalnya dalam pernyataan ayat-ayata berikut: “Jangan menyerbut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan” (Kel 20:7), “ Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyhuran-Mu sampai ke ujung bumi” (Maz 48:11), “nama-Nya masyhur di Israel” (Maz 76:2), Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat” (Ams 18:10). Dalam ayat-ayat diatas, “nama” itu berdiri sebagai seluruh manifestasi Allah dalam hubunganNya dengan umatNya, atau hanya untuk pribadi, sehingga nama itu menjadi sinonim dengan Allah. Dalam pengertian yang paling umum dari arti kata itu, nama Allah adalah WahyuNya sendiri. Nama itu adalah petunjuk atas diri Allah, bukan sebagaimana Ia ada dalam kedalaman Jatidiri IlahiNya, tetapi sebagaimana Ia menyatakan diriNya terutama dalam hubunganNya dengan manusia.

    Nama Allah membawa kesulitan bagi pikiran manusia. Allah adalah Ia yang tak dapat sepenuhNya dipahami, yang tak terbatas tingginya, akan tetapi dalam nama-namaNya Ia turun dari yang tertinggi kedalam semua yang terbatas dan seolah-olah menjadi sama dengan manusia. Nama-nama itu bukan hasil penemuan dari manusia dalam proses pengenalan akan Allah, tetapi nama-nama itu pemberian Allah sendiri dengan satu jaminan bahwa nama-nama itu menhgandung wahyu dari Jatidiri Ilahi. Dalam upaya memperkenalkan diriNya kepada manusia, Allah merendahkan diriNya sampai setara dengan manusia, sehingga Ia dapat dipahami oleh kesadaran dan pengetahuan manusia yang terbatas. Dr. Bavink mendasarkan pembagian dari nama-nama Allah dalam konsep yang luas tentang nama-nama itu, dan membedakan antara “nomina propria” (nama diri), “nomina essential” (nama-nama esensial atau sifat) dan “nomina personalia” (nama-nama pribadi seperti Bapa, Anak dan Roh Kudus).

B. Nama-Nama dalam Perjanjian Lama dan Artinya

 1. El, Elohim dan Elyon.

    Nama yang paling sederhana yang dengannya Allah disebut dalam Perjanjian Lama adalah nama “El”, yang sangat mungkin berasal dari kata “ul”, yang berarti menjadi yang pertama, menjadi tuan, dan juga berarti kuat dan berkuasa. Nama Elohim (bentuk tunggalnya adalah “Eloah”) mungkin berasal dari akar kata yang sama, atau berasal dari kata alah yang berarti “dilingkupi ketakutan”, dengan demikian menunjukan kepada Allah sebagai Dia yang kuat dan berkuasa, atau merupakan obyek dari rasa takut. Nama Elohim ini jarang ditemukan dalam bentuk tunggal, kecuali dalam bentuk puisi. Nama “Elyoan” diturunkan dari kata alah juga, dan berarti “ke atas”, “ditinggikan”, dan ditujukan kepada Allah sebagai Dia yang paling tinngi dan dimuliakan ("Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, … dan terpujilah Allah Yang Mahatinggi, Kej 14:19-20; “dan yang beroleh pengenalan akan Yang Mahatinggi” Bil 24:16; hendak menyamai Yang Mahatinggi! ,Yes 14:14). Nama ini bukan nomina propria karena memiliki arti yang sangat sempit, karena digunakan untuk berhala (Maz 95:3; 96:5), untuk menunjuk manusia, (Kej 33:10; Kel 7:1), dan tentang penguasa (Hak 5:8; Kel 21:6; 22:8-10; Maz 82:1).

 2. Adonai.

    Nama Adonai ini sangat erat hubungannya dengan nama El, Elohim, atau Elyon. Kata Adonai mungkin diturunkan dari kata “dun (din) dan adan” yang berarti menghakimi, memerintah, dan dengan demikian menunjuk kepada Allah sebagai penguasa yang kuat, kepada siapa yang berhadapan, dan kepada manusia yang adalah hamba. Dahulu bagsa Israel menyebut Allah dengan sebutan Adonai, tetapi kemudian diganti dengan sebutan Yehova atau Yahweh. Nama yang disebutkan itu menunjuk kepada Allah y sebagai Dia yang tinngi dan mulia, Allah yang transenden.

 3. Shaddai dan El-Shaddai.

    Nama “Shaddai” diturunkan dari kata “shadad” yang berarti penuh kuasa, dan menunjuk kepada Allah yang sebagai pemilik kuasa di surga dan di bumi. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa nama ini berasal dari kata “shas” yang berarti tuan. Nama ini berbeda dengan nama “Elohim” Allah pencita dari alam semesta, dalam arti bahwa nama “Shaddai” menunjuk kepada Allah sebagai subyek dari semua kekuatan di alam dan memakai segala sesuatu dialam sebagai alat ataui sarana bagi karya ilahi. “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat”, (Ul 10:17). Walaupun menekankan Kebesaran Allah, nama ini tidak mewakili Allah sebagai obyek rasa takut atau kegentaran, tetapi sebagai sumber berkat dan damai. Dengan nama inilah Allah datang kepada Abraham, bapa segala orang beriman. “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa”, (Kel 6:2).

 4. Yahweh dan Yahweh Tsebhaoth.

    Terutama dalam “Yahweh” yang perlahan-lahan menggantikan nama-nama yang lain inilah Allah menyatakan diriNya sebagai Allah anugerah. Nama ini dianggap paling sakral dan paling diangungkan diantara nama-nama yang lain, sebagai Allah yang tidak mungkin berubah. Orang Yahudi mempunya rasa takut tersendiri untuk menyebut nama ini, karena mereka selalu ingat kepada ayat ini “Siapa yang menghujat nama TUHAN, pastilah ia dihukum mati dan dilontari dengan batu oleh seluruh jemaah itu. Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama TUHAN, haruslah dihukum mati” (Im 24:16). Baik orang asing maupun orang Israel asli, bila ia menghujat nama Tuhan haruslah dihukum mati. Karena rasa takut itu maka dalam membaca Kitab Suci orang Yahudi mengganti nama Yahweh dengan sebutan “Adonai” atau “Elohim” dan kelompok Massoret walaupun tetap membiarkan konsonan dari itu tidak berubah, mereka memberikan kepada konsonan itu vokal-vokal dari kata Elohim dan Adonai, tetapi biasanya vokal dari kata Adonai lebih banyak dipakai. Kitab Pentateuch menghubungkan nama ini dengan kata kerja bahasa Ibrani “hayah” yang berarti “adalah” atau “berada” (Kel 3:13-14). Dalam Keluaran 3:14 mengatakan "AKU ADALAH AKU" atau bisa juga berarti “Aku akan menjadi apa yang Aku akan menjadi”. Nama ini mengandung jaminan bahwa Allah akan menjadi milik bagi umat Israel pada jaman Musa, sama seperti Allah menjadi Allah bagi Bapa leluhur mereka Abraham, Ishak, dan Yakub. Nama ini menekankan kesetian perjanjian Allah dan merupakan nama diri Allah secara “par exellence” (Kel 15:3; Maz 83:19; Hos 12:6; Yes 42:8) dengan demikian tidak dipakai untuk siapapun, kecuali untuk Allah orang Israel.

    Nama Yahwe sering diperkuat dengan tambahan kata “tsebaoth”. Origen dan Yerome menganggap kedua kata ini berlawanan, sebab kata Yahweh tidak bisa dalam bentuk konstrukt. Akan tetapi tafsiran ini tidak mendapat dukungan dan hampir tidak ada alasan kuat untuk menerimanya. Sulit menjelaskan kata tsebhaoth ini menerangkan apa, dan tentang arti nama tsebhaoth ini ada tiga pendapat utama

a) Tentara Israel. Kebenaran ini masih diragukan. Hanya ada tiga ayat yang sedikit menunjuk ke arah pembuktikan ini, yaitu (1 Sam 4:4; 17:45; 2 Sam 6:2), sedangkan salah satu ayat-ayat itu tidak mendukung (2 Raj 19:31).

b) Bintang-bintang. Akan tetapi dalam membicarakan tentang penghulu balatentara kerajaan sorga, Alkitab selalu memakai bentuk tunggal dan tak pernah dalam bentuk jamak. Lebih jauh lagi, bila bintang-bintang disebut sebagai penghulu kerajaan surga, bintang-bintang itu tidak menunjuk kepada penghulu tentara Allah

c) Malaikat-malaikat. Tafsiran ini lebih dapat diterima. Nama Yehovah Tsebhaoth sering ditemukan dalam hubungan-hubungan dimana malaikat disebut: (1 Sam 4:4; 2 Sam 6:2; Yes 37:16; Hos 112:4-5; Maz 80:1,4: Maz 89; malaikat-malaikat berulang kali dipakai untuk mewakili penghulu-penghulu yang mengelilingi takhta Allah, Kej 28:12; 32:2; Yos 5:14; 1 Raj 22:19; Maz 68:17; 103:21; 148:2; Yes 6:2. Memang benar bahwa dalam hal ini bentuk tunggalnya lebih sering dipakai, akan tetapi hal ini tidak menimbulkan keberatan yang serius, karena Alkitab juga menyebutkan sejumlah pembagian atas malaikat-malaikat (Kej 32:2; Ul 33:2; Maz 68:17). Lebih jauh lagi interpretasi ini ada dalam keselarasandengan arti nama itu, yang tidak mempunyai pengertian peperangan, tetapi merupakan ekspresi dari kemulian Allah sebagai raja ( Ul 33:2; 1 Raj 22:19; Maz 24:10; Yes 6:3; 24: 23; Zakh 14:16). Yehovah dari para penghulu adalah juga Allah yang penuh kemulian yang dikelilingi oleh penghulu-penghulu malaikat, yang memerintah lagit dan bumi demi umatNya dan yang menerima kemulian dari semua makhlukNya.

 C. Nama-Nama dalam Perjanjian Baru dan Tafsirannya.

 1. Theos.

    Theos merupakan nama Allah dalam Perjanjian Baru yang mempunyai bentuk setara dengan nama Allah dalam Perjanjian Lama. Bagi Nama El, Elohim dan Elyon, nama dalam bahasa Yunaninya adalah Theos, yang merupakan nama paling umum dari Allah. Seperti juga nama “Elohim”, nama ini juga mungkin saja merupakan penyersuaian dari nama ilah bangsa kafir, walaupun sesungguhnya secara tegas nama itu menyatakan keilahian yang esensial. “Elyon” sering disejajarkan dengan Huspistol Theos (Mark 5:7; Luk 1:32,35,75; Kis 7:48; 16:17; Ibr 7:1). Nama Shaddai dan El-Shaddai disejajarkan dengan Pantokrator dan Theos Pantokrator (2 Kor6:18; Why 1:8; 4:8; 11:17; 15:3; 16:7,14). Akan tetapi, pada umumnya Theos lebih sering muncul datam genetif yang menyatakan milik, seperti mou, sou, hemon, humon, sebab didalam Kristus, Allah dapat dianggap Allah dari segala umatNya atau anak-anakNya. Ide nasional Perjanjian Baru telah memberi tempat bagi orang-orang secara individual dalam beragama.

2. Kurios.

    Kurios adalah nama Yahweh dieksplesitkan beberapa kali oleh variasi-variasi dari bentuk deskripif seperti “Alfa dan Omega” Yang dulu ada, yang sekarang ada dan yang akan tetap ada”, “yang awal dan yang akhir”, “yang pertama dan terakhir”. (why 1:4, 8, 17; 2:8; 21:6; 22:13). akan tetapi selebihnya Perjanjian Baru mengikuti Septuaginta yang menggantikan Adonai denga kata Kurios, yang diturunkan dari kata kuros yang berarti kuasa. Nama ini tidak mempunyai konotasi yang tepat sama dengan Yahweh, tetapi menunjuk pada Allah Yang Mahakuasa, Tuhan, Pemilik, Penguasa yang memiliki otoritas atau kekuasan yang resmi. Dan Kurios juga menunjuk pada Kristus.  

 3. Pater.

    Pater (Bapa) sering dipake dalam Perjanian Baru, Pater atau Bapa ditunujujan kepada Allah. Hal ini hampir tidak benar, krena nama Bapa, Ayah, Amang, Ama, Papa tidak cocok dan bahkan tidak benar jika kita pakai untuk menunjuk Allah pencipta alam semesta,. Kata ini juga dipake dalam Perjqnjian Lama untuk menunjuk hubunga Allah dan bagsa Isreal. (Ul 32:5; Maz 103:13; Yes 63:16: 64:8; Yer 3:4,19; mAL 1:6; 2:10), Sedangkan Israel disebut sebagai anak Allah (Kel 4:22;Ul 14:1; 32:19’ Yes 1:2; Yer 31:20; Hos 1:10; 11:1). Dalam Perjanjian Baru kata Pater dipake dan menunjukan hubungan yang khususdimana pribadi pertama dari Allah Tritunggal berelasi dengan Kristus, sebagai Anak Allah, baik dalam pengertian metafisis atau dalam penegrtian sebagai pengantara hubungan etis di mana Allah berdiri bago orang percaya sebagai anak-anak rohaniNya.

 

KESIMPULAN

    Allah itu Agung dan Maha Besar, nama-Nya mengatasi segala nama, nama Allah penuh kuasa. Untuk dapat memahamiNya secara langsung adalah kemustahilan belaka, Hanya oleh kasih karunia kita dapat mengenalNya. Dalam Perjanjian Lama kita dapat mengenal beberapa nama yang ditujukan kepada Allah “El”, “Elohim”, “Adonai” “Saddai atau El-Saddai”, dan “Yahweh dan Yahweh Tsebhaoth.” sedangkan dalam Perjanjian Baru kita mengenal beberapa namayang ditujukan kepada Allah yaitu, “Theos”, “Kurios”, “Pater”.

    Dengan adanya Nama-nama Allah ini membuat kita untuk memanggil Allah dengan sebutan yang adal. Tetapi tidak menjadi batasan bagi kita untuk memanggil atau menyebutNya, karena jika dengan demikian kita membatasi yang Maha Kuasa, Maha Agung, Maha Sempurna, dan yang tak terbatas, hanya dengan sebuah nama. Allah kita tidak dibatasi oleh apapun.

 

 DAFTAR PUTAKA

 

Louis Berkhof, Teologi Sistematika, Vol. 1. Doktrin Allah, hal.76-76. yang diterjemahkan oleh, Yudha Thianto. Cetakan

 

By: James_deo

Kamis, 06 April 2023

Apakah Orang Kristen Boleh Bercerai dan Menikah Lagi Karena Perzinahan?

Awas! Beda Pilihan Politik Juga Bisa Bikin Suami-Istri Cerai
Picture: Detik.com

 

Mat 19:9 “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."

Pertanyaan tentang perceraian ini muncul saat beberapa orang Yahudi bertemu dengan Yesus lalu bertanya kepada-Nya. Karena pada zaman itu ada dua orang rabi di Israel yang memberikan pandangan yang berbeda dan pada prinsipnya mendukung perceraian. 1 Rabi Hilel “Bahwa perceraian itu boleh terjadi dengan suatu alasan tertentu”. Sedangkan 2 Rabi Shamai lebih ketat dan mengatakan “Bahwa perceraian hanya bisa dilakukan kecuali ada perziinahan”. Pada hal didalam Taurat sudah dikatakan bahwa Allah membenci perceraian, Maleakhi 2:16 FAYH “TUHAN, Allah orang Israel, telah berfirman bah Ia membenci perceraian dan orang-orang yang kejam terhadap istri mereka. Karena itu, kendalikanlah nafsuh berahimu-jangan ada di antara kamu yang menceraikan istrinya”. Dan peraturan ini sudah diketahui oleh semua orang Yahudi. Tetapi karena pengaruh kedua rabi di atas dengan pendapatnya masing-masing maka membuat bangsa Israel bingung dengan peraturan yang ada didalam Taurat.

Ketika Yesus mendengar pertanyaan ini Yesus tidak memberikan jawaban yang mendukung pendapat salah satu dari rabi diatas. Tetapi Yesus berkata bahwa standar penikahan harus dikembalikan kepada awalnya, yakni tidak ada perceraian dengan alasan apapun seperti awal mulanya, sebelum manusia jatuh dalam dosa, seoarang laki-laki akan pergi meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga mereka menjadi satu. Jadi apa yang sudah dipersatukan Allah tidak dapat dipisahkan oleh manusai, Kej 2:24, Mat 19:4-6.

Nah kita lihat konteks dalam Mat 19:9 ini, kata zinah yang pertama dalam firman ini dalam bahasa ibraninya adalah pornea yang berarti percabulan, sedangkan kata zinah keduanya “moikau” yang berarti berzinah. Pornea bisa diartikan atau ditafsirkan dalam tiga hal. 1 Pornea bisa berarti semua dosa percabulan yaitu, onani, pornografi, pelacuran, homoseksual, lesbian dan semua jenis dosa seksual. Dari sini kita bisa melihat apakah perceraian bisa dilakukan karena seorang suami onani atau nonton video porno? Jadi ini akan sangat sulit diterima, karena jika demikian tidak ada pernikahan yang utuh. Karena imajinasi seksual juga merupakan dosa percabulan. 2 Karena pornea juga termasuk semua dosa percabulan maka itu juga bisa dikatakan perzinahan, dimana kita melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang sudah menikah atau mempunyai ikantan pernikahan yang sah. Jika ini yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus, mengapa Ia tidak menggunakan kata “moikau” yang lebih tepat dan tidak bisa diartikan dengan tafsiran yang lain. Karena “moikau” berarti melakukan hubungan seksual dengan seseorang sudah menikah dan masih memiliki ikatan pernikahan yang sah. Jadi yang kedua ini juga tidak logis. 3 Pornea juga mempunyai arti hubungan seksual dengan pasangan yang belum menikah atau. Jika ini terjadi, maka orang tersebut melakukan dosa pornea. Mungkin ini yang dimaksudkan oleh Yesus mengenai pornea tersebut. Karena dalam adat istiadat orang Yahudi ada dua macam sebutan “suami-istri” yaitu yang sudah menikah secara sah dan yang masih bertunangan bisa mereka sebut sebagai pasangan suami-istri tetapi mereka belum dapat melakukan hubungan seksual. Contohnya Yusuf dan Maria, Yusuf dan Marria masih bertungan tetapi dalam Alkitab ditulis sebagai suami istri. Maka pada saat Yusuf mengetahui bahwa Maria mengandung ia diam-diam berpikir untuk menceraikan Maria. Pada hal saat itu Yusuf belum menikahi Maria sebagai istri yang sah, karena saat itu masih bertunangan. Bagaimana seorang suami mau menceraikan istrinya jika mereka belum menikah? Tetapi inilah tradisi orang Yahudi. Nah mungkin ini yang dimasudkan oleh Yesus tentang perceraian, dalam Mat 19:9. Jadi hanya bisa bercerai kalau masih tunangan dan belum dipersatukan dalam ikatan pernikahan yang kudus atau suatu perjanjian pernikahan yang sakral didalam Kristus. (Eddy Leo)

Muncul lagi pertanyaan mengapa Musa mengijinkan adanya perceraian? Dan jawaban Yesus dengan sangat luar biasa “itu karena ketegaran hatimu atau dengan kata lain karena keras kepalamu dan keinginan nafsumu yang membuat kamu  menginginkan perceraian tersebut.

Jadi sebagai anak Tuhan yang sudah dilahirkan kembali didalam Kristus Yesus, pernikan tidak dapat dipisahkan oleh alasan apapun. Secara pribadi saya ingat akan setiap janji pernikan saya “Oleh anugerah dan kasih sayang Bapa surgawi, hari ini tanggal, bulan dan tahun dihadapan Tuhan, pemimpin dan jemaat, saya … (nama mempelai pria) mengambil ... (nama mempelai wanita) sebagai istri saya yang sah dan satu-satunya. Saya akan menjadi imam dan menjadi suami yang melindungi isrti saya dan menyayangi istri (nama mempelai wanita) dengan kasih kristus, serta menjadi bapak yang baik dan yang bertanggungjawab untuk setiap anak-anak yang akan dipercayakan Tuhan kepada kita. Janji ini akan saya lakukan baik dalam suka maupun duka, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin dan dalam keadaan apapun sampai maut memisahkan kita berdua’. Dari janji ini kita bisa melihat bahwa sebagai seorang kristen yang lahir baru tidak ada kata cerai atau pisah ranjang dengan alasan apapun. Jika benar perceraian diizinkan oleh Yesus karena perzinahan, kita dapat menambahkan dalam janji nikah kita, bahwa kita akan berpisah atau bercerai jika diantara kita ada yang berzinah.

Janji pernikahan kristen berbeda dengan janji nikah agama lain. Karena janji pernikahan kristen adalah perjanjian atas dasar kasih Kristus, dimana setiap pernikahan harus dibangun di atas dasar Kristus atau Kristus sebagai dasar dalam pernikahan tersebut.

Persoalan yang kita hadapi dalam pernikahan atau rumah tangga adalah hal yang biasa dan mungkin itu diijinkan Tuhan supaya kita selalu melibatkan-Nya dalam setiap proses kehidupan rumah tangga kita dan dalam setiap pengambilan keputusan. Dalam hubungan rumah tangga atau keluarga kita harus mempraktekan kasih Kristus dalam hal saling mengasihi, saling mengampuni, saling menerima dan dalam segala hal. Di sinilah, kita butuh kasih karunia Tuhan setiap saat dalam membangun hubungan suami-istri serta membutuhkan bimbingan dan hikmat Tuhan dalam membangung rumah tangga.

 

By: James Deogens Nenobais