Jumat, 30 Juli 2010

8 Tanda Pria Punya Masa Depan Cerah

Berpakaian rapi dan keturunan keluarga terpandang tidak serta merta menjadikannya seseorang yang punya masa depan cerah, lho.
Jumat, 30/7/2010 | 10:27 WIB
KOMPAS.com — Apa yang Anda lihat ketika memilih pasangan? Pria yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang? Jika tujuan hubungan Anda hanya saat ini, mungkin itu cukup. Namun, bila yang Anda cari adalah hubungan yang serius hingga ke pernikahan, ada kriteria lain yang sebaiknya Anda lihat, yaitu potensi kesuksesan dia.

1. Punya tujuan hidup
Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.

Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, "Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir."

2. Mandiri
Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

3. Hobi menolong
Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.

4. Bersahabat dan berwawasan
Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.

5. "Family man"
Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.

6. Memiliki investasi
Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.

7. Realistis dan lurus
Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan  yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

8. Optimistis dan positif
Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata "tidak bisa" atau "malas deh melakukannya". Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.

(Majalah Chic/Bestari Kumala Dewi)

Rabu, 21 Juli 2010

Messi Jadi Duta PBB Untuk Dana Anak-anak

Messi Jadi Duta PBB Untuk Dana Anak-anak

TUESDAY, 20 JULY 2010

Total View : 205 times

Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) ternyata tidak hanya mengincar bintang film Hollywood atau artis penyanyi terkenal Amerika Serikat (AS), pemain sepak bola seperti Lionel Messi pun terpilih sebagai duta salah satu organ organisasi dunia tersebut.
Messi mendapat kepercayaan dari PBB sebagai Duta untuk Dana Anak-anak (United Nations Children’s Fund/UNICEF).
Pekan lalu, peraih gelar Pemain Terbaik Dunia versi FIFA dan Ballon d'Or pada 2009 itu berkunjung ke Haiti dalam rangka menjalankan peran barunya di luar lapangan hijau. Disana, ia bertemu dengan 50 ribu pengungsi yang berada di kamp Carrefour Aviation.
Seperti dilansir informasi pusat media PBB, New York, Senin (19/7), selain bertemu para pengungsi, Messi juga mengunjungi pasukan Argentina yang bergabung dengan misi penjaga perdamaian PBB di Haiti (MINUSTAH). Saat bersama tentara dari negara asalnya, pria yang menjadi andalan di klub FC Barcelona tersebut mendengar cerita mereka terkait upaya mengoperasikan rumah sakit untuk menangani korban gempa.
Lionel Messi berada di Haiti hanya satu hari. Selama di negara yang sempat diguncang gempa berkekuatan besar beberapa bulan itu, ia melakukan berbagai kegiatan dalam kapasitasnya sebagai Duta UNICEF termasuk mendengarkan penjelasan tentang program-program yang dijalankan organasasi yang diwakilinya (UNICEF, red) dalam membantu Pemerintah Haiti menangani para korban gempa, termasuk anak-anak.
Sebuah popularitas dapat digunakan manusia untuk hal yang baik dan buruk. Lionel Messi memberikan teladan kepada setiap kita bahwa walaupun namanya sudah terkenal seantero jagat, tetapi gunakan itu untuk membawa kebaikan bagi sesama manusia.

Source : metrotvnews

Selasa, 20 Juli 2010

Wanita dan Dendam Di Hatiku

Wanita dan Dendam Di Hatiku

TUESDAY, 20 JULY 2010

Total View : 2355 times

Sejak kecil Ferry telah ditinggal oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Sang ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga sehingga harus bekerja di tempat lain. Semenjak usia dini, Ferry telah diberi tanggungjawab untuk menjaga adik-adiknya. Ferry dapat melihat bagaimana hidup ibunya penuh dengan pergumulan yang terkadang sepertinya ingin menyerah untuk membiayai hidup dirinya maupun adik-adiknya.
Ibunya Ferry memang bukan orang yang memiliki pendidikan tinggi. Ketika Ferry ingin mengikuti les bahasa Inggris, makian dan kata-kata kasarlah yang terucap dari bibir ibunya sehingga menorehkan luka yang dalam di hati Ferry. Kekesalan dan kebencian yang dirasakan Ferry dilampiaskan Ferry di makam ayahnya. Cacian serta makian Ferry lontarkan di depan kubur sang ayah.
"Pertama-tama sih saya membersihkan makam papa sambil menangis. Habis itu saya maki-maki papa. ‘Apa artinya kamu, bisanya nyetak anak doank, tidak bertanggungjawab!!' Saya ludahi, saya tendangi makam papa di sana. ‘Kata orang dulunya kamu itu orang kaya! Kata orang dulunya papa itu orang hebat, tapi apa yang papa tinggalkan untuk kami? Hanya seperti ini!'," kisah Ferry. Dunia terasa tidak adil bagi Ferry.
Ketika Ferry menyaksikan teman-temannya bersenda gurau dengan ayah mereka, hal itu merupakan pemandangan yang menyakitkan baginya karena ia tak pernah mendapatkan sosok seorang ayah. Ferry sungguh-sungguh merasa kehilangan sosok seorang ayah. Ia tidak memiliki tempat mengadu ketika menghadapi masalah di sekolah, sedangkan ibunya hampir tidak pernah memiliki waktu bagi Ferry dan adik-adiknya. Rasa sayang Ferry terhadap sang ibu pun bisa dibilang hampir tidak ada.
Semua peristiwa itu menjadi kenangan pahit yang menggoncang jiwanya. Hal itu terus membekas dalam hatinya hingga Ferry tumbuh dewasa dan mengubah pribadi Ferry menjadi seorang yang kasar. Ia tidak lagi menghormati ibunya, bahkan tidak pernah lagi mau mendengarkan setiap perkataan ibunya. Apalagi perkataan ibunya seperti. "Mati saja kau!!" begitu sering terucap dari bibir ibunya.
Sebuah kejadian lain yang tanpa disadari membuat diri Ferry hancur. Sang adik pergi untuk selamanya akibat sebuah perkelahian. Ferry lah yang selalu dipersalahkan atas kematian adiknya. Bahkan ia disebut sebagai seorang ‘pembunuh' bagi adiknya. Hal itu begitu menyakiti hati Ferry. Tak ada seorangpun yang kuasa menolak kematian ketika ia datang menjemput. Demikian juga Ferry, ia merasa tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan untuk menyelamatkan ataupun mengembalikan nyawa adiknya.
Dicap sebagai orang yang tidak berguna, membuat Ferry berusaha keras untuk membuktikan bahwa dirinya mampu. Namun upaya yang dilakukannya dianggap sebelah mata oleh sang ibu. Rasa sakit hati yang tertanam di hati Ferry semakin dalam. Sosok sang ibu pun tak ada lagi dalam diri Ferry. Kebersamaannya bersama sang pacar membuat Ferry kembali menemukan arti dan keberhargaan dalam hidup.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebuah kenyataan pahit harus siap untuk Ferry terima. Sang pacar ternyata memiliki cinta yang lain. Dendam dan kecewa terhadap ibu dan pacarnya membekas di hati Ferry. Niat untukmembalas semua perlakuan mereka terlintas dalam pikirannya. Ferry berniat menyakiti sebanyak mungkin wanita dan tidak akan pernah menghargai seorang wanita.
Untuk melampiaskan kekecewaannya, Ferry pun terjun pada kehidupan yang begitu liar. Meniduri banyak wanita adalah wujud untuk membalaskan dendamnya terhadap pacarnya. Ketika teman kencannya sudah dalam keadaan bugil, seringkali Ferry malah memaksa teman kencannya untuk berpakaian dan menutupi aurat mereka. Ferry sungguh-sungguh menunjukkan kemuakannya terhadap wanita.
Sekalipun tidak melakukan hubungan seks, menelanjangi dan melihat kepolosan tubuh wanita yang tidak ditutupi sehelai benang pun merupakan hal yang memuaskan hati Ferry. Dan hal itu sering ia lakukan sebagai wujud pelampiasan dendamnya terhadap ibu dan mantan kekasihnya.
"Kenikmatan buat saya lebih tepat dikatakan sebagai kepuasan. Karena setiap kali saya melakukan itu dengan dia, saya tidak ada perasaan sayang sama sekali, tidak ada perasaan mengasihi. Saya hanya ingin mempermalukan dan puas bila melakukan hal itu. Setelah melihat dia bugil seperti itu, saya pun langsung muak. Dan itu adalah sebuah kepuasan bagi saya. Saya sadar perilaku saya yang ingin menyakiti wanita itu adalah dampak dari apa yang dilakukan pacar saya dulu dan juga mama saya. Karena saya berpikir wanita itu jahat seperti mama saya dan pantas untuk disakiti," ujar Ferry.
Bertahun-tahun lamanya Ferry terjerat dakam kehidupan seks hingga ia terlena. Tak ada lagi kebahagiaan yang ia rasakan dalam dirinya.
"Saya merasa capek seperti ini terus. Saya butuh seseorang karena saya yakin hidup saya seharusnya tidak seperti ini. Ada sesuatu yang harus saya cari, tapi apakah itu bukanlah hal yang bisa saya jawab. Saya pun tidak tahu apa itu dan siapa yang saya cari," kenang Ferry akan masa lalunya.
Pada saat hati mulai kosong dan kesepian, Ferry mulai mencari sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hatinya dan ia mendapatkannya. Ferry mulai mencari Tuhan. Ketika Ferry tenggelam dalam doa, ia benar-benar merasakan perasaannya plong dan terbebas dari segala tekanan itu. Dengan mengandalkan doa, perlahan-lahan Ferry mulai berubah. Sampai suatu hari Ferry mengikuti sebuah acara dan di sana penyesalan demi penyesalan mulai Ferry rasakan.
Di acara itu, Ferry didoakan oleh seorang wanita hamba Tuhan. Dan dalam doa tersebut, ia mangatakan, "Saya sebagai seorang wanita yang mungkin pernah menyakiti, atas nama mereka, saya minta ampun." Perkataan ini begitu menyentak hati Ferry, dan ia pun tanpa basa-basi lagi langsung mengambil keputusan untuk mengampuni dan meminta pengampunan dari orang-orang yang ia sakiti.
"Saat saya mengatakan mau, saya merasakan ada suatu kedamaina, ada suatu yang harus saya lakukan, yaitu komitmen. Saya harus mengampuni mama saya, dan juga pacar saya yang dulu, dan orang-orang lain yang mungkin saya sakiti. Saya tidak pernah menyelesaikan masalah hati ini dengan mantan pacar saya maupun ibu saya. Dan ketika hamba Tuhan tersebut berkata seperti itu, inilah yang selama ini saya cari, yaitu kata-kata, ‘Saya minta ampun' dan harus saya ungkapkan kepada mereka," kisah Ferry.
Perlahan-lahan hubungan yang selama ini membeku di antara Ferry dan ibunya mulai membaik. Akhirnya Ferry mendatangi ibunya dan mengakui semua kesalahannya serta meminta maaf.
"Ternyata hidup saya tanpa mama itu kosong. Saya minta ampun kepada mama, sudah mengecewakan mama selama ini, sudah membuat mama sedih. Dan ternyata Mama pun mengeluarkan sebuah pengakuan, mama meminta maaf karena tidak pernah memperhatikan saya dan juga adik-adik," ujar Ferry.
Kebencian dan sakit hati yang membelenggu Ferry selama bertahun-tahun telah Tuhan pulihkan. Saat ini Ferry bekerja melayani orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan.
"Kalau saya mengingat dosa-dosa saya dulu, saya pernah menyakiti wanita, saya juga kecewa dengan mama saya, saya minder dan merasa tidak mampu serta tidak percaya diri, tapi setelah kenal Tuhan Yesus, saya punya percaya diri. Saya tahu ada suatu rencana Tuhan dalam hidup saya," ujar Ferry menutup kesaksiannya. (Kisah ini ditayangkan 20 Juli 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).
Sumber Kesaksian :
Ferry Pardede

Jumat, 16 Juli 2010

Kasih Dan Kesabaran Yang Memulihkan

Kasih Dan Kesabaran Yang Memulihkan

MONDAY, 12 JULY 2010

Total View : 4193 times

Narkoba telah meracuni Bui Min sejak ia remaja dan menjadikan dirinya sebagai budak narkoba. Bagi Bui Min, menjadi seorang pecandu narkoba adalah sebuah kebanggaan karena ia menemukan sebuah keluarga yang rasanya lebih enak dari keluarganya sendiri.
Sewaktu kecil, hubungan ayah dan ibu Bui Min tidak begitu harmonis karena ayahnya pada dasarnya adalah seorang yang cuek dan sering mengeluarkan perkataan yang kasar. Makian dan tamparan menjadi hal biasa yang sering diterima Bui Min dari ayahnya. Hal yang paling mengecewakan dari ayahnya adalah kebiasaan ayahnya yang suka berjudi. Apalagi jika ayahnya sudah kalah berjudi, emosi yang memuncak senantiasa mewarnai segala tindak-tanduknya. Bui Min seringkali diperlakukan kasar oleh ayahnya di hadapan teman-teman ayahnya. Kesedihan, kekecewaan, perasaan malu dan hatinya yang terluka hanya dapat disimpan Bui Min rapat-rapat di dalam hatinya. Bui Min hanya dapat menerima segala perlakuan kasar ayahnya dalam diam.
Bui Min berusaha melupakan kejadian itu. Namun suatu peristiwa kembali menorehkan suatu luka di dalam hati kecilnya. Bui Min melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ayahnya membenamkan kepala adiknya ke dalam bak mati sambil memaki-maki adiknya dengan kata-kata yang kasar. Bagi Bui Min saat itu, apapun kesalahan yang telah diperbuat oleh adiknya, perlakuan seperti itu bukanlah hukuman yang layak untuk diterima adiknya yang masih kecil. Namun di tahun 1982, prahara melanda keluarga Bui Min. Judi membaw ayahnya ke dalam kebangkrutan. Saat itu, Bui Min harus hidup terpisah dengan adiknya.
Kebencian yang ditabur sang ayah, membawa Bui Min masuk ke dalam jerat narkoba. Bahkan sepeninggal ayahnya ke Hongkong, tanpa disadari, adiknya juga bertumbuh dalam pemberontakan dan narkoba. Bahaya pun mengintai. A Cung, adik Bui Min, tertangkap polisi saat bersama teman-temannya sedang berpesta narkoba. A Cung hanya dijatuhi 9 bulan penjara kemudian dibebaskan. Untuk sesaat, Bui Min kembali tenang. Namun hal itu tak berlangsung lama. Perangai A Cung semakin liar. A Cung mulai memakai jarum suntik. A Cung juga menjadi keras dan tidak bisa dinasehati. Bahkan A Cung berani memukul Bui Min, kakaknya. Perkelahian pun tak dapat dihindarkan.
Hati Bui Min sangat pedih karena adik yang sangat dikasihinya, sekarang malah menjadi lawannya. Namun saat Bui Min melihat kesabaran ibunya, hatinya mulai tersentuh. Hal yang sangat berharga bagi Bui Min adalah ibunya. Dengan lemah lembut, ibunya menasehati Bui Min untuk berhenti menyia-nyiakan hidupnya dengan terus mengonsumsi narkoba.
"Saya hanya berpikir, sia-sialah mama melahirkan saya. Dan sia-sialah saya jadi anaknya. Dan saya punya kerinduan, saya tidak mau menyusahkan mama lagi. Saya mengambil keputusan, saya harus berhenti...," ujar Bui Min dalam kesaksiannya.
Perlahan-lahan, Bui Min dapat terlepas dari kecanduannya. Namun Bui Min harus tetap berjuang demi A Cung, adiknya. Sampai suatu hari, A Cung, seperti biasanya, meminta narkoba kepada Bui Min. Dengan berat hati, Bui Min tetap memberikan benda haram itu kepada adiknya. Dengan penuh kasih sayang, Bui Min mengajak A Cung untuk berubah. Dengan berurai air mata, Bui Min meminta maf kepada A Cung karena tidak dapat menjadi kakak yang baik bagi A Cung. Dengan saling berpelukan sambil menangis, A Cung pun menyampaikan niatnya kepada Bui Min untuk lepas dari narkoba, mengingat kesusahan akibat perbuatan yang mereka lakukan bagi ibunya.
Selama 3 hari, Bui Min bersama-sama dengan ibunya merawat A Cung yang sedang berusaha lepas dari narkoba. Dengan setia dan penuh kesabaran Bui Min menjagai A Cung dan berusaha memenuhi segala keperluan A Cung. Bahkan Bui Ming rela mengeluarkan uang puluhan juta rupiah demi adiknya. Namun ketika mereka lengah, sesuatu yang jahat kembali mengintai nyawa sang adik.
Tanpa sepengetahuan orang rumah, teman-teman A Cung datang dan menyuntikkan A Cung dengan barang haram tersebut. Saat itu Bui Min sedang bekerja menjaga toko usaha miliknya. Sepulangnya dari toko, Bui Min melihat teman-teman A Cung yang baru saja keluar dari kamar. Saat Bui Min melihat adiknya, A Cung sudah seperti orang yang keracunan. A Cung pun segera dilarikan ke rumah sakit.
Setelah mendapat perawatan selama beberapa jam, kondisi A Cung mulai membaik. Namun, saat Bui Min sedang berada di toko dan keadaan terlihat amat baik, tiba-tiba sebuah kabar buruk terdengar. A Cung telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bui Min pun segera melarikan motornya ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Bui Min hanya menemukan tubuh A Cung yang sudah terbujur kaku.
"Saya gagal, saya benar-benar merasa gagal sebagai seorang kakak. Karena seharusnya saya bisa menjagai adik-adik saya. Di situlah saya bilang sama Tuhan, biar dosa-dosa adik saya, saya yang pikul," ujar Bui Min dalam kesaksiannya dengan mata berkaca-kaca.
Penyesalan tinggallah penyesalan. Bui Min pun berusaha melupakan kejadian memilukan itu. Dunia malam dan narkoba pun kembali masuk dalam hidupnya. Namun kegagalan seakan terus mengikutinya. Yang tersisa hanyalah kekecewaan dan keputus-asaan. Saat itulah, suatu ketakutan mulai merembet di hati Bui Min. Pada suatu hari dalam kebingungannya, Bui Min hanya berjalan sambil menangis di tengah malam. Sambil menatap langit, Bui Min berteriak dan mempertanyakan keberadaan Tuhan.
Namun saat Bui Min menengadah ke langit, Bui Min teringat akan sebuah pengalaman masa kecilnya. Saat itu, Bui Min akan mengikuti pelajaran agama di sekolahnya. Namun kelasnya memang kekurangan bangku, sehingga Bui Min harus mengambil bangku di kelas pelajaran agama Kristen. Saat itulah guru Agama Kristen tersebut memanggilnya ke depan dan berdoa baginya. Guru Agama itu berdoa agar Tuhan Yesus masuk ke dalam hati Bui Min dan ia dapat menemukan Yesus sebagai satu-satunya jalan, kebenaran dan kehidupan.
Saat itu, dalam keputus-asaannya, Tuhan menuntun Bui Min untuk masuk ke kamar dan berdoa. Bui Min pun berdoa dengan kata-kata yang sederhana sambil menangis. Di situlah timbul suatu kerinduan di dalam hati Bui Min untuk pergi ke gereja. Tapi Bui Min tidak tahu gereja mana yang harus ia datangi. Hingga pada suatu hari, Bui Min bertemu dengan teman satu sekolahnya dulu. Dari dialah Bui Min mendapat informasi mengenai suatu gereja. Bahkan temannya ini tanpa segan-segan menjemput Bui Min di hari Minggu untuk beribadah bersama.
Setelah tiga minggu menghadiri pertemuan ibadah itu, sesuatu menggerakkan hatinya. Perkataan yang menjadi rhema di hati Bui Min adalah, hanya Tuhan saja yang sanggup menolong kita. Dan saat itulah, Bui Min merasa dia termasuk di dalam golongan orang yang membutuhkan pertolongan itu dan Bui Min tahu Tuhan mau menolongnya. Saat altar call, Bui Min maju untuk didoakan. Bui Min merasa semua dosa dan kesalahan yang telah dibuatnya dulu, noda yang tidak berkenan di hadapan Tuhan diangkat saat itu juga. Bui Min merasakan ada kuasa yang mengalir yang membuatnya merasa kuat, merasakan kasih Tuhan yang dalam atas hidupnya. Bui Min benar-benar merasakan sesuatu yang baru di dalam hidupnya, bukan seperti Bui Min yang dulu lagi.
Semenjak hari itu Bui Min berkomitmen untuk lepas dari narkoba dan dunia malam. Namun Bui Min tidak pernah membayangkan, bahwa narkoba yang telah ia tinggalkan akan kembali menghampiri keluarganya dan mencoba mencabut nyawa Dina, adik keduanya. Pada suatu hari Bui Min menemukan Dina sedang over dosis di dalam kamarnya. Bui Min hanya bisa memeluk Dina dan langsung mendoakannya. Bui Min sadar secara manusia, kondisi Dina saat itu sudah tidak mungkin tertolong. Namun saat sedang mendoakan Dina, Bui Min merasakan suatu nafas kehidupan pada Dina dan Bui Min tahu kalau Dina masih hidup.
"Ko A Min itu sering sekali menasehati saya supaya saya berhenti mengonsumsi narkoba. Karena gara-gara narkoba, saya harus kehilangan kakak saya, dan ko A Min tidak mau ia harus kehilangan adiknya yang satu lagi karena narkoba. Ko A Min memang selalu menasehati saya dan tidak pernah berhenti mendorong saya untuk berhenti dari narkoba. Dia selalu mendukung saya, memberikan semangat, membawa saya ke rumah sakit, berobat detox, pokoknya selama ini koko yang selalu membantu saya," kisah Dina menceritakan awal pertobatannya meninggalkan dunia narkoba.
Kesabaran dan kasih Bui Min ternyata sanggup membangkitkan semangat Dina untuk sembuh. Tetapi jauh di dalam hati kecilnya, Bui Min tahu kekecewaan terhadap ayahnya masih membekas. Hingga pada suatu hari, Bui Min mengikuti sebuah acara retreat. Di retreat itulah Bui Min dijamah mengenai pemulihan hati Bapa. Di sana Bui Min teringat akan kekecewaan hatinya terhadap ayahnya dan bagaimana perlakuan ayahnya terhadap dirinya selama ini. Bagaimana buruknya hubungan yang ada di antara mereka. Bui Min merasa bukan suatu hal yang pantas untuk seorang anak memiliki hubungan yang jelek dengan ayahnya sendiri. Dan saat itulah Bui Min melepaskan pengampunan secara total bagi ayahnya.
Tahun 2003, Bui Min kembali membuka usaha bordir pakaian. Tuhan terus memberkati usahanya. Kemudian di tahun 2007, Tuhan mempersatukan Bui Min dengan seorang wanita yang menjadi istri dan ibu dari anaknya. Hati yang terluka karena kekecewaan telah dipulihkan Tuhan. Pemulihan hubungan terjadi di antara Bui Min dengan ayahnya. Hati yang terluka karena kekecewaan telah dipulihkan Tuhan. Kini sebuah harapan selalu ada di hati Bui Min untuk sang ayah.
"Saya punya kerinduan bisa akur sama papa, saling berbagi, saling mengasihi dan saling peduli," ujar Bui Min menutup kesaksianya. (Kisah ini ditayangkan 12 Juli 2010 dalam acara Solusi  Life di O'Channel).
Sumber Kesaksian :
Bui Min