Sabtu, 18 November 2017

Bapa kumengasihi-Mu - KEGA WORSHIP

Bapa kumengasihi-Mu
Yesus kumencintai-Mu
Roh kudus penuhilah aku
Dengan kasih sayang-Mu

Bapa kumengasihi-Mu
Yesus kumencintai-Mu
Roh kudus penuhilah aku
Dengan kasih sayang-Mu

KU BERSYUKUR ATAS KASIH - KEGA WORSHIP

KU BERSYUKUR ATAS KASIH
YESUS YANG MENYELAMATKANKU

KARENA KAU DISALIBKAN
BAGI PENEBUSAN DOSAKU

DIA YANG MEMBANGKITTKAN
AKU YANG MATI

DAN MEMBEBASKANKU
TUHANKU

KUCINTA KAU SEGENAP HATI
SEKARANG AKU JADI MILIKMU

TERIMALAH PUJIANKU
KU MENCINTAIMU

Jumat, 10 November 2017

Mengenal 3 Sosok Tentara Jepang yang Membantu Indonesia Usir Belanda



















GARUT, KOMPAS.com - Taman Makam Pahlawan Garut yang ada 
di Kampung Tenjolaya Kelurahan Jayawaras Kecamatan Tarogong Kidul, 
bukan hanya menjadi tempat istirahat terakhir pejuang Indonesia. 
Ternyata Taman Makam Pahlawan Garut menjadi tempat peristirahatan terakhir 
bagi tiga tentara Jepang yang satu di antaranya berdarah Korea.
Ketiganya dimakamkan di tempat itu karena ikut berjuang bersama rakyat Indonesia menghalau tentara Belanda pada agresi militer Belanda kedua tahun 1948.
Ketiganya adalah Yang Chil Seong yang masih berdarah Korea yang dalam nama Jepang disebut Tanagawa, Aoki, serta Hasegawa.

Iman Sukirman, penjaga Taman Makam Pahlawan Tenjolaya mengungkapkan, Yang Chil Seong, merupakan seorang prajurit yang ahli dalam membuat bom. Sementara, Aoki dan Hasegawa merupakan ahli strategi perang.
Ketiganya, selain bergabung berjuang bersama rakyat Indonesia, juga menyatakan masuk Agama Islam dan mengganti nama mereka.
Tanagawa menjadi Komarudin, sementara Aoki menjadi Abu Bakar, dan Hasegawa menjadi Usman yang diambil dari nama sahabat Nabi Muhammad SAW.
Iman menceritakan, ketiga tentara Jepang tersebut, bergabung dengan pasukan yang diberi nama Pasukan Pangeran Papak yang bermarkas di Kecamatan Wanaraja.
Bahkan, Tanagawa sempat menikahi gadis Wanaraja. Bersama pasukan Pangeran Papak, ketiganya berhasil menghalau tentara Belanda masuk ke Garut saat agresi militer Belanda yang kedua.
"Sebelumnya dimakamkan di Pasir Pogor, sejak tahun 1982, ketiganya dipindahkan ke TMP Tenjolaya,"jelas Iman saat ditemui Kamis (9/11/2017) di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya.

Menurut Iman, dari sejarah yang diketahuinya, tiga tentara tersebut, memegang peranan kunci dalam menghalau Belanda masuk ke Garut. Tanagawa, dengan keahliannya membuat bom, berhasil menghancurkan jembatan PTG yang saat ini dikenal dengan jembatan Kerkhof yang ada di jalan Perintis Kemerdekaan.
Strategi menghancurkan jembatan sendiri, merupakan strategi dari Aoki dan Hasegawa yang dilaksanakan oleh Tanagawa.
Iman mengungkapkan, ketiga tentara Jepang tersebut, meninggal di tangan prajurit Belanda setelah mereka tertangkap bersama dua prajurit Indonesia di kawasan Gunung Dora Kecamatan Sucinaraja yang berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya. "Mereka bersembunyi di Gunung Dora, bisa tertangkap setelah ada orang yang membocorkan keberadaan mereka," jelasnya.
Setelah ditangkap, ketiganya lantas dieksekusi mati oleh tentara Belanda di lapangan Kerkhof yang saat ini jadi Sarana Olahraga (SOR) Merdeka, Kerkhof. Sementara, dua tentara lainnya yang dari Indonesia, dibawa ke Bandung oleh tentara Belanda.
"Komarudin, saat dieksekusi mati, usianya sekitar 30 tahun. Saat dieksekusi, mereka menggunakan baju kemeja putih dengan sarung merah, eksekusinya di hadapan masyarakat," katanya.
Saat ini, menurut Iman, hampir tiap tahun keluarga Komarudin dari Korea datang ke taman makam pahlawan Tenjolaya untuk berziarah.
Terakhir bulan Juli lalu, ada rombongan pelajar dari Korea yang berziarah. Selain itu, stasiun televisi Korea pun sempat melakukan liputan dan datang ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya.
Kisah Komarudin alias Tanagawa alias Yang Chil Seong pun, telah dibukukan seorang profesor dari Jepang. Peofesor tersebut melakukan riset sejak 2003 hingga 2012 setelah sebelumnya pada tahun 2003 perwakilan dari Korea dan Jepang berkunjung ke Taman Makam Pahlawan Tenjolaya.

Batu nisan di makam Komarudin pun, saat ini telah diganti menggunakan marmer oleh pemerintah Korea Selatan. 
Kepala Staf Kodim 0611 Garut, Mayor Infanteri Aat Supriatna membenarkan tiga makam berjajar di taman makam pahlawan Tenjolaya adalah tiga orang prajurit Jepang yang akhirnya membantu berjuang melawan Belanda hingga tewas.
"Jika sosok Yang Chil Seong saja bisa sangat mencintai Indonesia hingga berani berjuang, kenapa kita sebagai orang Indonesia tidak mencintai tanah kelahiran sendiri," katanya saat ditemui Kamis (9/11/2017) di Taman Makam Pahlawan Tenjolaya Garut.

KONTRIBUTOR GARUT, ARI MAULANA KARANG
Sumber:
Kompas.com - 10/11/2017, 06:57 WIB

Rabu, 18 Oktober 2017

Asal-usul nama Indonesia

JAKARTA, 18 Oktober 2017 - Ketika Sumpah Pemuda dicetuskan pada 28 Oktober 1928, nama Indonesia sebagai identitas pemersatu sebuah bangsa modern di Asia menjadi perekat lintas suku bangsa, agama, dan sekat-sekat primordial.

Asal-usul nama Indonesia mulai dikenal pada medio tahun 1800-an. Menurut sejarawan Universitas Oxford, Peter Carey, nama Indonesia muncul dan diperkenalkan James Richardson Logan (1819-1869) tahun 1850 dalam Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia.
Logan adalah orang Skotlandia yang menjadi editor majalah Penang Gazette, wilayah Straits Settlement-kini Negara Bagian Penang, Malaysia-yang bermukim di sana kurun waktu 1842-1847.
"Nama yang diperkenalkan adalah Indonesia untuk menyebut Kepulauan Hindia yang waktu itu merupakan jajahan Belanda sehingga disebut Hindia-Belanda," kata Carey.

Bangsa Eropa mengenal dua wilayah Hindia, yakni Hindia-Barat, yaitu wilayah Kepulauan Karibia yang ditemukan Christopher Columbus yang semula diyakini sebagai wilayah Hindia (India)-pusat rempah-rempah yang dicari orang Eropa.

Sesudah ekspedisi Vasco da Gama dan Magellan, ditemukanlah Hindia Timur, yakni Kepulauan Nusantara, yang merupakan pusat rempah-rempah yang selama berabad-abad dicari orang Eropa.
Wilayah Nusantara tersebut merupakan persimpangan peradaban dan pengaruh budaya India dan Tiongkok sehingga ilmuwan Perancis, Dennis Lombard, menyebutnya sebagai carrefour de civilization atau silang budaya.

Sejarawan Yayasan Nation Building (Nabil), Didi Kwartanada, menambahkan, informasi tentang seorang priayi Inggris, Earl George Samuel Windsor (1813-1865), dalam karya ilmiah berjudul On The Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations (1850) mengusulkan sebutan khusus bagi warga Kepulauan Melayu atau Kepulauan Hindia (Hindia-Belanda) dengan dua nama yang diusulkan, yakni Indunesia atau Malayunesia.
Tokoh lain yang disebutkan Peter Carey dan Didi Kwartanada adalah ilmuwan Jerman, Adolf Bastian (1826-1905), Guru Besar Etnologi di Universitas Berlin, yang memopulerkan nama Indonesia di kalangan sarjana Belanda.


Bastian memopulerkan nama Indonesia dalam bukunya berjudul Indonesien; Oder Die Inseln Des Malayischen Archipel terbitan 1884 sebanyak lima jilid. Buku tersebut memuat hasil penelitiannya di Nusantara dalam kurun 1864-1880. Menurut Carey, Bastian membagi wilayah Nusantara dalam zona etnis dan antropologi.

sumber: Kompas.com - 29/10/2015, 18:00 WIB