Rabu, 01 April 2015

Rina Aditya Sartika Curhat kepada Koleganya di DPRD

JAKARTA, KOMPAS.com - Putri Alex Usman, Rina Aditya Sartika, sempat dikabarkan menghilang sejak mencuatnya kasusuninterruptible power supply (UPS) yang menimpa ayahnya. Ketika wartawan mengunjungi kantornya beberapa kali, Rina yang berada di Fraksi Partai Gerindra selalu tidak ada di ruangan.

Teman satu fraksi, yaitu Mohamad Taufik dan Prabowo Soenirman, mengatakan bahwa Rina memang sedang umrah beberapa waktu lalu. Akan tetapi, Rina kini sudah kembali ke Indonesia dan beberapa kali sempat "ngantor".

"Kemarin hari Jumat ngobrol sama saya di sini sampai sore kok. Dia curhatlah," ujar Prabowo di gedung DPRD DKI, Selasa (31/3/2015).

Prabowo mengatakan, ketika dia bertemu dengan Rina, Rina menceritakan banyak hal kepada Prabowo. Beberapa di antaranya, Rina mengaku belum siap menjumpai wartawan atas kasus yang menimpa ayahnya atau yang dituduhkan kepada dia.

Prabowo mengatakan, Rina merasa tertekan dengan berita tentang dia selama ini. Dia takut keadaan semakin buruk jika dia bertemu media.

Secara tersirat, Prabowo juga mengatakan Rina tidak lagi bisa dihubungi setelah kasus UPS itu. Kemungkinan, nomor telepon Rina telah diganti. Bahkan Prabowo mengaku tidak memiliki nomor telepon Rina yang baru.

Sikap Rina ini dianggap wajar oleh Prabowo. Pasalnya, Rina adalah anggota dewan perempuan yang tidak akan sekuat anggota laki-laki jika ditekan.

"Dia merasa tersudutkan. Biasalah, namanya juga wanita. Dia itu baru pulang umrah hari Kamis. Sepertinya ganti nomor juga. Capek ditelponin teman. Dia butuh privacy juga. Biasalah, kalau saya yang dihantem, biasa aja. Namanya cowok, saya sih ketawa-ketawa aja. Kalau Bu Rina mungkin tidak bisa seperti itu," ujar Prabowo.

Rina diduga terlibat masalah pengadaan buku yang telah diterbitkan dan pengadaannya menggunakan pos anggaran Dinas Pendidikan di APBD DKI 2014. Buku tersebut adalah "Dari Kampoeng Hingga Metropolitan", "Batavia Era Kolonial Hingga Jokowi", "Jakarta Dulu Rawa Sekarang Pencakar Langit", "Dari Delman Menuju MRT", "Perempuan Betawi Menyusui", dan "Urban Batavia Urban Jakarta".

Berdasarkan dokumen APBD 2014, anggaran pengadaan buku itu terbilang fantastis. Buku "Dari Delman Menuju MRT" dianggarkan untuk siswa SD, SMP, SMA, dan SMK. Untuk siswa SD, anggarannya Rp 830 juta; alokasi untuk SMP senilai Rp 600 juta; untuk siswa SMA sebesar Rp 500 juta; dan untuk siswa SMK sebesar Rp 500 juta. Sementara anggaran buku Urban Batavia Urban Jakarta senilai Rp 500 juta.

Buku "Jakarta Dulu Rawa Sekarang Pencakar Langit" untuk siswa SMA dan SMK sebesar Rp 500 juta serta buku Batavia Era Kolonial Hingga Jokowi senilai Rp 500 juta. Prabowo mengatakan, Rina juga membicarakan hal itu dengan Prabowo. Berdasarkan cerita Rina, Prabowo mengatakan bahwa itu adalah proses biasa.

"Itu kan proses biasa kalau ada yang salah silakan diusut. Dia kan pengusaha, dia menulis buku, kebetulan aja dia jual ke Pemprov. Kalau memang ada yang salah, ya tolong KPK telisik saja kesalahannya," ujar Prabowo.

Prabowo pun menegaskan kasus yang menimpa Rina tidak ada hubungannya dengan ayahnya yaitu Alex Usman. Untuk diketahui, Alex Usman resmi ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan korupsi uninterruptible power supply (UPS) di sekolah-sekolah oleh Subdit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri. Terkait dengan status tersangka ayahnya, Prabowo mengatakan bahwa Rina merasa shock.

"Enggak ada hubungan dengan jabatan orangtuanya. Soal ayahnya dijadikan tersangka, namanya keluarga, dia pasti shock," ujar Prabowo.

Prabowo pun mengatakan dia memberi saran kepada Rina. Menurut Prabowo, Rina tidak dapat selamanya menghindar seperti ini. Rina harus terbuka dengan awak media agar segala sesuatu menjadi jelas. Prabowo pun berjanji akan mengenalkan Rina kepada wartawan saat sidang paripurna angket kelak.

"Saya sudah bilang, 'kamu harus berani temui wartawan', nanti saat paripurna dia datang, nanti saya pertemukan dia dengan kalian (wartawan)," ujar Prabowo.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Jessi Carina
Editor: Ana Shofiana Syatiri

Selasa, 31 Maret 2015

Siapa penulis kitab-kitab dalam Alkitab?

Pada akhirnya, melampaui manusia sebagai penulis, Alkitab ditulis oleh Allah. 
2 Timotius 3:16 "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran."
memberitahukan bahwa Alkitab “dinafaskan” oleh Allah. Allah mengawasi para manusia yang menulis kitab-kitab Alkitab sehingga sekalipun mereka menulis dengan gaya tulisan dan kepribadian mereka masing-masing, mereka tetap mencatat secara persis apa yang Allah ingin mereka katakan. Alkitab tidak didikte oleh Allah, namun dituntun dan secara keseluruhan diilhamkan oleh Allah.

Secara manusiawi, Alkitab ditulis oleh kurang lebih 40 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda dalam kurun waktu 1500 tahun. Yesaya adalah seorang nabi, Ezra adalah seorang imam, Matius adalah pemungut cukai, Yohanes adalah seorang nelayan, Paulus adalah pembuat kemah, Musa adalah seorang gembala. Sekalipun merupakan tulisan dari para penulis yang berbeda dalam 15 abad, Alkitab tidak bertentangan satu dengan yang lain dan tidak mengandung kesalahan apapun. Para penulis menyajikan perspektif yang berbeda, namun semuanya memproklamirkan Allah yang esa dan sejati yang sama, dan jalan keselamatan yang sama – Yesus Kristus (Yohanes 14:6; Kisah Rasul 4:12). Tidak banyak kitab-kitab Alkitab yang secara spesifik menyebutkan nama penulisnya. Berikut ini adalah nama-nama kitab sekaligus dengan nama orang yang secara umum dianggap oleh para sarjana Alkitab sebagai penulis kitab tsb. dan perkiraan tahun penulisan.

PERJANJIAN LAMA:


Kejadian, Keluaran, imamat, Bilangan, Ulangan = Musa – 1400 S.M.
Yosua = Yosua – 1350 S.M.
Hakim-Hakim, Rut, 1 Samuel, 2 Samuel = Samuel/Natan/gad – 1000-900 S.M.
1 Raja-Raja, 2 Raja-Raja = Yeremia – 600 S.M.
1 Tawarikh, 2 Tawarikh, Ezra, Nehemia = Ezra – 450 S.M.
Ester = Mordekhai – 400 S.M.
Ayub = Musa – 1400 S.M.
Mazmur = beberapa penulis yang berbeda, kebanyakan oleh Daud, Musa, Bani korah, Asaf, Salomo, Etan, Heman – 1000 – 400 S.M.
Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung = Salomo – 900 S.M.
Yesaya = Yesaya – 700 S.M.
Yeremia, Ratapan = Yeremia – 600 S.M.
Yehezkiel = Yehezkiel – 550 S.M.
Daniel = Daniel – 550 S.M.
Hosea = Hosea – 750 S.M.
Yoel = Yoel – 850 S.M.
Amos = Amos – 750 S.M.
Obaja = Obaja – 600 S.M.
Yunus = Yunus – 700 S.M.
Mikha = Mikha – 700 S.M.
Habakuk = Habakuk – 600 S.M.
Zefanya = Zefanya – 650 S.M.
Hagai = Hagai – 520 S.M.
Zakharia = Zakharia – 500 S.M.
Maleakhi = Maleakhi – 430 S.M.


PERJANJIAN BARU:

Matius = Matius - 55 A.D.
Markus = Yohanes Markus – 50 A.D.
Lukas = Lukas – 60 A.D.
Yohanes = Yohanes 90 A.D.
Kisah Rasul = Lukas – 65 A.D.
Roma, 1 Korintus, 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, 2 Tesalonika, 1 Timotius, 2 Timotius, Titus, Filemon = Paulus – 50-70 A.D.
Ibrani = tidak diketahui, diduga Paulus, Lukas, Barnabas, atau Apolos – 65 A.D.
Yakobus = Yakobus – 45 A.D.
1 Petrus, 2 Petrus = Petrus – 60 A.D.
1 Yohanes, 2 Yohanes, 3 Yohanes = Yohanes – 90 A.D.
Yudas = Yudas – 60 A.D.
Wahyu = Yohanes – 90 A.D.

Pendemo Kesal Dibayar Cuma Rp 50.000, Tak Bertemu Ahok Pula

JAKARTA, KOMPAS.com — Para pendemo yang datang dari Masyarakat Anti Korupsi (Mars) merasa kecewa saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Balai Kota, Senin (30/3/2015). Sebab, mereka dan perwakilan tokoh Betawi lainnya tidak bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

Kelompok ini melakukan aksi sejak pukul 11.00 hingga 13.30. Mereka meminta klarifikasi terkait pernyataan Basuki perihal pemberian nama sapi "USB" (untuk sapi Betawi) saat di Rumpin, Kabupaten Bogor.  (Baca: Ahok Beri Nama Sapi di Bogor "USB")

"Kita sudah (dibayar) gocap (Rp 50.000) gini doang. Sudah enggak bertemu Ahok (Basuki), shalat dzuhur juga kagak. Rugi dua kali lipat nih gue," kata pria yang sedang memegang mikrofon untuk menyampaikan aspirasi di depan Balai Kota DKI Jakarta itu. 

Dia juga mengaku kecewa dengan sedikitnya jumlah orang yang hadir untuk melakukan aksi unjuk rasa. Padahal, awalnya sudah ada niat untuk menggandeng Front Pembela Islam (FPI) dan organisasi lain agar aksi lebih besar.

Dia juga mengaku sempat dibisiki beberapa oknum agar membuat aksi unjuk rasa berujung ricuh. Namun, dia justru curhat saat mengikuti aksi FPI beberapa waktu silam saat menuntut Basuki mundur dari jabatannya sebagai Gubernur DKI.

"Tadi ada yang teriak chaos-chaos, giliran gue di dalam (penjara), Lebaran di dalam (penjara), lu yang teriak-teriak di luar. Ogah gue masuk barracuda lagi," kata dia tertawa. (Baca: Gara-gara Beri Nama Sapi "USB", Ahok Didemo)

Sekitar pukul 14.00, massa Mars dan beberapa tokoh Betawi sudah meninggalkan Balai Kota.


Penulis: Kurnia Sari Aziza
Editor : Ana Shofiana Syatiri

Senin, 30 Maret 2015

Ahok Akan Menobatkan Prasetyo Edi Marsudi Sebagai Raja Lapas Ciangir

uploads--1--2014--11--94476-prasetyo-edi-ketua-dprd-dki-jakarta-sindir-sikap-kmp-seperti-infotainmentISLAMTOLERAN.COM- Ahok sedang menghitung-hitung manfaat dana siluman sebesar Rp 12,1 triliun, dalam benaknya segera terobsesi untuk membangun Lapas bertaraf Internasional yang dilengkapi dengan semua fasilitas penunjang kebutuhan hidup modern, semua fasilitas tersedia disana, bak sebuah Istana, memang sesungguhnya akan dibuatkan sebuah Istana Lapas.
Dari hasil rancang bangun AHok, lapas ini diperuntukan khusus untuk para koruptor yang berasal dari DPRD DKI, lalu apa saja yang dapat kita ketahui tentang obsesi AHok untuk pembangunan Istana lapas itu. Sebuah Istana Lapas yang menempati wilayah sangat luas, akan tetapi akan dibuat terisolasi dari dunia luar, terpisah dengan dunia terang.

Hebaaat ide yang cemerlang yang dibuat Ahok. Istana Lapas, berada dalam jarak yang jauh, jauh sekali dengan dunia yang kita diami saat ini. Jarak yang jauh artinya mereka tak dapat berkomunikasi dengan hati, karena mereka sudah kehilangan hati, sudah kehilangan nurani.
Mereka dibuat selalu berada di dalam Istana yang merupakan dunia gelap. Wilayahnyapun khusus tak sembarang manusia dapat masuk kedalamnya. Lalu Ahok dengan Dana sebesar Rp 21,1 Triliun caranya sengaja ingin menginak bobokan penghuni Istana lapas yang sekarang sudah menjadi alam yang serba gelap pada diri mereka.

Didalam Istana Lapas itu tak ada penerangan satu buah lampupun, karena lampu yang ada telah mereka matikan untuk selamanya, yaitu lampu mata hati. Lampu Mata Hati atau lampu hati nurani akan mati dengan sendirinya ketika para pemilik lampu memakan harta haram. Harta haram yang diperoleh dengan cara merampok uang negara atau uang rakyat.
Kini para perampok masih hidup bebas, mempermainkan APBD dengan kekuasaan politik di DPR secara berjamaah, saat sekarang sedang bersuka ria menikmati dana siluman hasil jarahan uang rakyat. Calon penghuni Istana lapas Ciangir, tidak lain adalah para anggota DPRD yang rakus pemakan harta haram.

Mereka terdiri atas para rajanya dana siluman yang sudah bertahun-tahun mengatur menginterogasi, memaksa, SKPD-SKPD, agar memasukan usulan-usulan bermacam titipan item anggaran sehingga prioritas anggaran menjadi terbengkelai, karena selalu dijegal dengan adanya anggaran siluman itu.
Tidak masuk akal sehat, sangat mahal dan manipulatif, pengadaan buku trilogi Ahok senilai Rp 30 miliar dalam Anggaran Pendapatan Belanja Daerah 2015 menurut hasil interogasi adalah bukan usulan Dinas, semua itu murni usulan DPRD. Sebab, dalam pembahasan di tingkat komisi, tidak ada kegiatan seperti itu.

Permainan tingkat tinggi memanipulasi APBD sehingga muncul Anggaran siluman tidak lepas dari petinggi ketua dan para wakil ketua DPRD DKI. mereka adalah Prasetyo Edi Marsudi, M Taufik, Haji Lulung, Triwisaksana. Apakah mereka ini kelak akan terlibat dan akan dijadikan tersangka?
Penyelidikan berjalan terus dari KPK, Kepolisian, Kejaksaan, sebagai balasan AHok kepada anggota Dewan yang melayangkan hak angketnya kepada Gubernur DKI AHok. Jika DPRD dengan gayanya yang seolah meyakinkan melayangkan Angket, maka Ahok dengan PEDE-nya mengerahkan KPK, POLRI, Kejaksaan, untuk melakukan penyelidikan kepada anggota Dewan.
Jika Begini naga-naganya benar apa yang dikatakan banyak orang, AHok akan menyeret para politisi kedalam Hotel Prodeo. Oleh AHok akan disiapkan tempat Khususnya berupa Istana Lapas Ciangir masuk wilayah Kecamatan Cibingbin Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat. Mereka yang masuk dalam target adalah para pimpinan di DPRD, yaitu,

Prasetyo Edi Marsudi kelak di Istana Lapas bertindak sebagai Rajanya, dia ini seorang yang berasal dari partai pemenang pemilu PDIP. Kader yang dianggap sangat produktif menghasilkan uang untuk mendanai partai, sangat disayang oleh ketua umumnya Megawati.
Calon penghuni lapas kedua adalah Maha Patih M Taufik, bagi dirinya menjadi penghuni Istana Lapas tidak membuatnya kaget, karena sudah pernah menjalaninya ketika masih menyandang sebagai penggede premandan Taufik kala itu tersandung hukum. Ia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan alat peraga Pemilu 2004.

Ia kemudian divonis selama 18 bulan pada 27 April 2004 lalu karena merugikan negara sebesar Rp 488 juta. Nasib kehidupannya di Istana Lapas Ciaring M Taufi diperkirakan akan menjadi andalan Istana Lapas sangat berwibawa dan seram, disamping Istana Lapas yang selalu gelap tanpa penerangan. Maksudnya penghuninyapun gelap tanpa penerangan hati.

Calon penghuni ketiga Istana Lapas adalah Haji Lulung, seorang yang selalu menampilkan sosok seorang yang berpegang teguh kepada syaria’at agama, partai yang menjadi payung naungannya adalah PPP, sebuah partai Islam yang menjadi kebanggaannya. PPP ini berprestasi mengantarkan Mantan Ketua Umumnya SDA menjadi tersangka Korupsi dana Haji Abadi Umat.

Calon penghuni Istana Lapas Modern Ciangir berikutnya adalah Triwisaksana, politisi PKS yang sangat potensial, dia tidak tercemari oleh over dosis kolesterol jahat dari daging sapi, akan tetapi akbat pergaulannya dengan para mavia siluman anggaran menjadikan dirinya terseret kedalam penghuni Istana lapas Ciangir yang sangat modern namun serba gelap itu.

Akhirnya AHOk berjalan sambil tersenyum penuh keyakinan inilah saatnya Para pimpinan DPRD DKI tahu diri sekali-kali merasakan hidup di Hotel Prodeo, walaupun berupa Istana Baru Istana Lapas Ciangir yang modern tetapi tetapi mirip istana hantu.
Salam Kompasiana

Penulis: Imam Kodri (seorang kompasianer)