Selasa, 14 April 2015

Ahok :Jakarta Pasti Berubah

 

JAKARTA, - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi sepakat untuk menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) APBD 2016. Basuki mengatakan, kesepakatan itu terbentuk seusai pertemuannya bersama Presiden Joko Widodo dan Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi, di Istana Negara, Selasa (14/4/2015). 

Hanya saja, menurut Basuki, untuk APBD Perubahan tahun 2015 ini, Pemprov DKI tetap menggunakan peraturan gubernur (pergub) sebagai dasar hukumnya.  

"Secara tata negara, APBD-P tetap harus pergub, sekali pergub tetap harus pergub. Cuma tahun 2016, APBD nya yang harus disiapkan perda. Tadi dengan Presiden dan Pak Pras, kami sepakat akan menjaga supaya APBD 2016 itu menggunakan perda," kata Ahok, sapaan Basuki, di Balai Kota, Selasa (14/4/2015).  

Terlebih dalam penyusunan program di RAPBD 2016, Pemprov DKI telah menggunakan sistem e-musrenbang. 

Seluruh usulan program dari tingkat RT/RW atau kelurahan bisa dipantau melalui Jakarta Smart City maupun website e-musrenbang di musrenbang.bappedajakarta.go.id. 

Dengan itu, seluruh warga dan pihak kelurahan serta kecamatan bisa mengawasi program-program yang diusulkan dalam musrenbang. 

Ia pun berharap tak ada lagi usulan program yang hilang atau tidak terwujud seperti rencana awal.  Namun sebagai antisipasi supaya tahun 2016 tidak lagi terbit pergub, Basuki menyerahkan hal tersebut kepada DPRD. 

Hanya saja dia tetap menegaskan tidak akan memasukkan pokok-pokok pikiran (pokir) setelah pengesahan RAPBD. 

Terlebih jika program maupun nilai pokir itu tidak masuk akal. Sebab semua program untuk penganggaran tahun 2016 dilakukan melalui sistem e-musrenbang dan e-budgeting. 

"Sampai ada oknum tidak mau tanda tangan, kami sampaikan (kepada masyarakat)." 

"Kan semua terbuka transparan, tadi juga saya bicara sama Mendagri, kalau DKI ini sampai semua kelurahan sudah (pasang)fiber optic lho. Makanya tadi pas kami bikin video call teleconference, tidak ada jeda, seperti ngomong biasa saja. Makanya e-government sekarang sudah sangat baik di Jakarta. Kami juara 1, web nomor 1, e-government DKI sudah nomor 1," kata dia.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Sumber: Kompas.com

Penulis: Kurnia Sari Aziza       
Editor: Desy Afrianti

Kamis, 09 April 2015

JANGANKAN DIPANGGIL ANGKET, DIPANGGIL TUHAN JUGA KITA UDAH SIAP KOK!

Panitia Angket DPRD DKI Jakarta telah mengumumkan hasil pemeriksaan mereka terhadap Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Hasilnya mereka menetapkan bahwa Ahok bersalah melanggar dua hal sekaligus, yaitu, pertama, telah melakukan pelanggaran Undang-Undang, terutama mengenai proses penyampaian RAPBD 2015 DKI Jakarta, dan yang kedua, telah melakukan pelanggaran etika sebagai pejabat tinggi negara.
Tentang yang pertama, Ahok dipersalahkan karena telah menyampaikan RAPBD 2015 DKI Jakarta yang bukan merupakan hasil pembahasan antara Pemprov DKI dengan DPRD DKI Jakarta kepada Kemendagri. Untuk itu DPRD DKI menyebutkan Ahok telah menyerahkan dokumen palsu kepada Kemendagri. Sedangkan yang kedua adalah karena Ahok kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan kasar, terutama sekali yang terbaru adalah “bahasa toilet” Ahok saat diwawancarai Kompas TV beberapa waktu lalu.
Ketua Tim Hak Angket, Muhammad Sangaji alias Ongen telah menyerahkan dokumen hasil pemeriksaan mereka mengenai yang mereka sebut bukti pelanggaran yang telah dilakukan oleh Ahok itu kepada Ketua DPRD DKI Jakarta, untuk selanjutkan akan diadakan rapat paripurna untuk membahasnya; apakah akan dilanjutkan dengan hak menyatakan pendapat (HMP) ataukah tidak (berhenti sampai di paripurna saja). Dari hasil HMP itulah DPRD DKI ingin mencapai cita-citanya untuk memakzulkan Ahok dari kursi DKI-1.
Lazimnya pejabat yang terancam kedudukannya ini akan keder, gentar menghadapi ancaman pemakzulan seperti ini.
Tetapi, anehnya, yang tampak menjadi keder bukan Ahok, malah sebaliknya mereka anggota DPRD DKI Jakarta yang sangat antusias untuk memakzulkan Ahok itu. Setelah sampai ke tahapan hasil hak angket yang memutuskan Ahok bersalah itu, DPRD DKI malah terlihat menjadi gamang atas keputusan mereka sendiri itu. Sebaliknya, dasar Ahok yang “gila” ia malah terus memanas-manasi DPRD DKI untuk meneruskan proses hak angket itu ke tahapan berikutnya, ke tahapan HMP, seterusnya sampai ke Mahkamah Agung (MA).
“Makanya, saya menantang DPRD, (kalau mau ajukan) HMP, ya HMP. Jangan pengecut gitu lho,” ucap Ahok di Balai Kota, Rabu (8/4/2015).
Kegamangan DPRD DKI itu terjadi karena meskipun telah menyatakan Ahok bersalah, sejatinya mereka tidak bakal bisa membuktikan secara hukum bahwa Ahok memang bersalah. Mereka hanya bisa secara solidaritas politik demi kepentingan bersama menjatuhkan vonis Ahok bersalah. Tentu saja ini jika kasus ini sampai ke MA, tak cukup bukti untuk meyakini MA secara hukum menyatakan Ahok bersalah dan harus dimakzulkan.
Ketua Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta Selamat Nurdin, misalnya, malah menyayangkan sikap Ahok yang malah menantang DPRD DKI untuk meneruskan proses upaya pemakzulan dirinya itu.. Ia menganggap Ahok hanya menyindir saja.
“Childish, ya, sayang. Kalau sudah kapasitas Gubernur, seharusnya enggak mengarah seperti itu,” kata Selamat, Rabu (8/4/2015).
“Sudahilah hal-hal yang sifatnya kontroversi. Belajar sama-sama menghargai mekanisme organisasi dan kelembagaan. Cari solusi yang baik untuk Jakarta … “,katanya lagi.
“HMP dan hak angket enggak seram kok. Jadi kita pengin santai saja. Jangan dijadikan aspek yang mencekamlah,” ujar Selamat.
Padahal tampaknya dia dan kawan-kawannya di DPRD DKI-lah yang kini merasa seram dan tercekam dari konsekuensi hasil angket yang mereka buat sendiri itu. Upaya pemakzulan Ahok lewat mekanisme hak angket itu kini tampaknya mulai menjadi bumerang bagi mereka.
Sedangkan sang ketua tim angket, Muhammad Sangaji alias Ongen sepertinya malah kendur dengan semangat memakzulkan Ahok itu, dia malah mengharapkan Ahok meminta maaf kepada DPRD DKI, sehingga masalah tersebut bisa selesai sampai di situ saja. Kalau Ahok mau minta maaf kepada DPRD DKI, maka ia tetap akan dijatuhi sanksi karena sudah bersalah, tetapi sanksinya bisa berupa teguran keras saja. “Mudah-mudahan Ahok mau minta maaf (kepada DPRD DKI)”, katanya.
“Kalau orang salah, pasti ada sanksinya. Mungkin teguran keras, minta maaf, kan kita negara santun. Kesantunan harus kita jaga. Mudah-mudahan Pak Gubernur mau minta maaf, jadi bisa clear permasalahan,” kata Ongen.
Sedangkan seperti yang pernah Ahok ucapkan, menurutnya makna dari santun yang paling hakiki adalah tidak pernah melakukan korupsi, termasuk korupsi anggaran. Apakah anggota DPRD DKI yang hendak memakzulkan dirinya itu tidak termasuk di dalam gerombolan mafia anggaran di DKI Jakarta?
Tetapi, bukan Ahok namanya kalau sampai bersedia kompromi apalagi meminta maaf kepada DPRD DKI (dengan imbalan permasahalannya dengan DPRD DKI akan selesai sampai di situ saja, sama-sama aman, win-win solution). Salah saja dia tak merasa, kok ia disuruh minta maaf.
Kalau Ahok sudah “waras” mungkin sekali ia akan menuruti kehendak DPRD DKI itu, tetapi berhubung karena Ahok masih “gila”, maka ia malah menantang DPRD DKI agar segera meneruskan upaya pemakzulan dirinya itu.Maksudnya agar semua menjadi jelas, tidak lalu menggantung masalahnya, kemudian hilang lenyap dilupakan orang, seperti banyak kasus-kasus serupa lainnya.
“Makanya, saya sarankan DPRD, anda kalau malu enggak usah suruh saya minta maaf. Teruskan saja hak menyatakan pendapat!” katanya, di Balai Kota, Rabu (8/4/2015).
Menurut Ahok, seharusnya, anggota DPRD yang memangkas anggaran program unggulan DKI dan menyelipkan pokok pikiran (pokir) hingga Rp 12,1 triliun dan Rp 40 triliun dari tahun 2012 meminta maaf kepada warga DKI Jakarta.
Ahok mengatakan, karena DPRD DKI sudah menyatakan dia bersalah, maka mereka wajib membuktikan tuduhan mereka itu melalui mekanisme HMP tersebut, tidak malah menggantung sampai di kesimpulan hak angket tersebut. Sedangkan ia sendiri sudah membuktikan bahwa memang ada yang namanya anggaran siluman senilai Rp. 12,1 triliun itu, termasuk telah terjadi praktek korupsi anggaran di tahun sebelumnya, khususnya 2012-2014, yang diduga kuat melibatkan anggota DPRD DKI, pejabat pengguna anggaran di Pemprov DKI, dan pihak swasta pemilik perusahaan abal-abal yang memang khusus didirikan hanya untuk dipakai namanya untuk memuluskan proyek-proyek siluman dengan meng-mark-up harga dan nilai proyeknya secara gila-gilaan itu.
Sesungguhnya yang dipermasalahkan DPRD DKI itu bukan tentang Ahok yang menyalahi aturan menyampaikan RAPBD 2015 DKI yang bukan hasil pembahasan itu, tetapi intinya adalah karena Ahok telah mencoret anggaran siluman yang disisipkan di RAPBD itu sebelum diserahkan ke Kemendagri. Seandainya anggaran siluman itu tidak dicoret Ahok, pasti mereka tidak mempermasalahkannya. Mereka marah kepada Ahok karena “sumber pendapatannya” yang selama ini lancar-lancar saja dari tahun ke tahun, begitu saja dicoret Ahok.
Bagaimana bisa Ahok dituduh telah melakukan pemalsuan dokumen, kalau toh penyerahan dokumen RAPBD DKI tersebut akhirnya sudah dapat dipastikan akan disetujui Kemendagri?
Direktur Jenderal (Dirjen) Kemendagri, Reydonnyzar Moenek telah menyatakan kepastian itu. Kata dia, dalam waktu dekat akan merampungkan Surat Keputusan (SK) Menteri Dalam Negeri, tentang Pengesahan Rancangan Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta tentang APBD 2015.
“Dalam waktu satu dua hari. Maksimal tanggal 10 bisa SK Mendagri sudah diteken,” ujar Reydonnyzer kepada wartawan di Jakarta, Rabu (9/4).
Kejanggalan lain dalam kasus ini juga adalah DPRD DKI yang seharusnya menjalankan fungsi pengawasannya terhadap penggunaan anggaran oleh Pemprov DKI Jakarta, malah tidak menjalankan fungsinya itu. Yang menemukan kasus korupsi anggaran itu seharusnya DPRD DKI, tetapi yang terjadi malah Ahok-lah sebagai pihak eksekutiflah yang membongkarnya.
Selama ini adakah pernah kita dengar DPRD DKI begitu perduli secara nyata mengenai upaya-upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi, yang seharusnya merupakan bagian dari tugas dan wewenang mereka sebagai lembaga legistlatif pengawas eksekutif?
Ketidaktulusan DPRD DKI dalam menyukseskan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi itu juga terlihat dari resistensi mereka terhadap sistem e-budgeting yang mulai diterapkan Ahok pada 2015 ini. Padahal sistem e-budgeting ini menutup peluang-peluang korupsi anggaran.
Sedangkan mengenai “bahasa toilet” yang pernah diucapkan saat diwawancarai Kompas TV itu, Ahok mengaku ia sudah meminta maaf kepada masyarakat, dan memang demikian adanya, kita sendiri sudah mendengar permintaan maaf Ahok tersebut. Selain meminta maaf kepada masyarakat, ia juga sudah meminta maaf kepada Kompas TV, karena akibat dari “bahasa toilet”-nya itu, Kompas TV telah mendapat teguran dari KPI. KPI yang dalam kasus Ahok ini, seolah menjadi pahlawan pelajaran etika di media TV, padahal selama ini sampai sekarang mereka membiarkan terus generasi muda kita diracuni moral dan etikanya melalui sinetron-sinetron sampahnya.
Panitia hak angket DPRD DKI menyatakan Ahok bersalah dengan “bahasa toilet” dan sejenisnya itu, tetapi mereka sendiri tidak mempermasalah umpatan-umpatan yang sama yang pernah mereka lontarkan saat rapat mediasi di Kemendagri beberapa waktu lalu. Kalau Ahok menggunakan “bahasa toilet” untuk mengumpat para pelaku korupsi anggaran yang sok santun dan suci, maka anggota-anggota DPRD DKI itu mengumpat dengan “bahasa kebun binatang” dan rasis terhadap Ahok, karena ia membongkar adanya anggaran siluman itu.
Betapa anehnya, Prabowo Soenirman yang jelas-jelas sudah mengaku memaki Ahok dengan umpatan “gubernur goblok”, malah termasuk di dalam anggota tim angket yang mempermasalahkan etika Ahok dalam bertutur kata itu.
Jika para anggota DPRD DKI itu berada dalam tekanan yang sama dengan Ahok bisa jadi umpatan-umpatan “kebun binatang” dan kebencian rasis mereka akan lebih diumbar mereka itu jauh lebih kasar daripada yang mereka ucapkan di rapat mediasi itu.
“Yang harus minta maaf ke warga DKI itu mereka yang beli USB fungsinya UPS. Ya, aku menolak untuk minta maaflah, mereka juga harus minta maaf, dong sudah ngajuin pokir Rp 12,1 triliun. Sudah benar tuh sekarang polisi periksa (anggota) DPRD, tangkapin saja mereka, baru deh harusnya mereka yang minta maaf,” nyata Ahok dengan gaya ceplas-ceplos khasnya itu.
“Enggak ada hak menyatakan minta maaf. Berarti kalau anda tidak menggulirkan HMP, ya Anda malu hanya berhenti di angket,” tantang Ahok.
Dia bilang, sebetulnya dia bukan mau menantang DPRD DKI, tetapi hendak memberi pelajaran kepada mereka tentang pemahaman terhadap konstitusi.
“Makanya, saya pikir DPRD belajar dari mana enggak mengerti undang-undang. Saya menantang, bukan menantang-lah, tetapi mengajari supaya mereka mengerti konstitusi kalau sudah sampai paripurna angket, ya harus HMP. Enggak berani kayaknya mereka takut, ayo dong saya panas-panasin supaya tambah jelas,” kata Ahok yang tampaknya semakin “gila” itu.
Hak angket DPRD DKI itu sejatinya adalah hak yang bisa mereka gunakan dalam mengontrol penggunaan anggaran oleh Pemprov DKI Jakarta, demi kepentingan warganya. Kepentingan warga DKI Jakarta itu di antaranya adalah agar penggunaan anggaran daerahnya harus benar-benar sepenuhnya digunakan untuk kepentingan dan kesejahteraan warga DKI Jakarta, bukan demi kepentingan wakilnya di DPRD DKI.
Faktanya, dari apa yang dilakukan oleh DPRD DKI Jakarta dengan hak angketnya itu, sangat kelihatan sama sekali bukan demi kepentingan rakyat, melainkan demi kepentingan anggota Dewan. Hak angket digunakan sebagai alat untuk menyingkirkan lawan politiknya, dalam hal ini Ahok, Gubernur DKI Jakarta yang telah menggagalkan mereka meneruskan tradisinya selama ini dalam menggunakan anggaran siluman, yang tahun 2015 ini besarnya mencapai Rp 12,1 triliun itu.
Ahok harus disingkirkan lewat mekanisme rekayasa pemakzulan, karena ia adalah Gubernur DKI yang untuk pertamakalinya menghentikan kebiasaan DPRD DKI bersama dengan pejabat-pejabat tertentu di Pemprov DKI Jakarta dalam memainkan anggaran, yang disebutkan Ahok dengan nama “anggaran siluman” itu. Padahal, kebiasaan ini sudah berlangsung lama sekali, sehingga seolah-olah sudah bukan bagian dari korupsi lagi. Selama ini, sebelum Ahok dan Jokowi, gubernurnya diduga pura-pura tidak tahu adanya permainan anggaran itu, supaya kedudukannya juga bisa aman-aman saja tidak diusik DPRD.
Kini, Ahok datang sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan sangat perduli dengan permainan kotor tersebut, dan bertekad baja untuk menghentikannya, apa pun taruhannya, meskipun untuk itu ia harus kehilangan jabatannya.
Dari proses pengggunaan hak angket itu saja sudah terasa janggal. Selama sebulan proses itu berlangsung, Ahok yang menjadi obyek pemeriksaan, malah sama sekali tidak dipanggil untuk diminta keterangannya secara langsung. Penyebabnya, kemungkinan besar apa yang dikatakan Ahok itu benar adanya, yaitu, tim angket itu takut kalau mereka langsung memeriksa Ahok, ia malah akan semakin membongkar modus dan praktek penggunaan anggaran siluman itu secara lebih mendetail.
Ahok bilang, “Anda (DPRD DKI) sudah menyatakan saya melanggar undang-undang walaupun secara pribadi menurut saya itu tidak adil. Saya enggak punya hak angket kan, kalau (dokumen RAPBD) saya palsu, kenapa enggak panggil saya, katanya mau hak interpelasi, eh enggak mau, enggak jadi, malah langsung angket. Angket juga saya sudah minta dipanggil biar saya jelaskan, biar saya kasih muka kalian malu, enggak (dipanggil) juga”.
Tanpa meminta keterangan Ahok secara langsung, tim angket begitu saja berkesimpulan Ahok telah melakukan dua pelanggaran: pelanggaran terhadap Undang-Undang dan pelanggaran terhadap etika itu.
Sebenarnya, sejak semula DPRD DKI itu hendak mengajak Ahok berkompromi, dengan cara membiarkan atau pura-pura tidak tahu tentang adanya anggaran siluman Rp. 12,1 triliun itu. Kalau kompromi itu disepakati, maka DPRD juga tidak akan mengganggu Ahok, tidak akan ada hak angket bagi Ahok, syaratnya pokok pikiran (pokir) DPRD DKI bernilai Rp. 12,1 triliun itu harus diloloskan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
Ahok itu memang “gila”, tetapi bukan gila jabatan, oleh karena itu ia menolak mentah-mentah kompromi tersebut. Katanya, satu sen pun anggaran tak sudi ia relakan untuk dimasukkan di dalam anggaran siluman itu.
Anggota DPD RI dari DKI Jakarta AM Fatwa pun bilang, Ahok tidak peduli mau dimakzulkan. Tidak apa-apa. Asal prinsip pembaruan yang mencegah penyimpangan-penyimpangan, yang sebenarnya budaya penyimpangan seperti ini itu terjadi hampir di seluruh Indonesia. Hanya, biasa terjadi kompromi. Dalam hal ini, Ahok tidak mau kompromi”.
Dia mengaku sebagai orang yang mendukung Ahok. Untuk melakukan perubahan seperti yang dilakukan Ahok, lanjutnya, perlu keberanian.
“Ya, memang kadang diperlukan orang dalam tanda petik agak gila sedikit,” ujar dia. Dia juga berharap Presiden Jokowi memberlakukan sistem e-budgeting tidak hanya di DKI, tetapi juga secara nasional sehingga praktik penyimpangan anggaran dapat dihilangkan.
Selama Ahok masih Gubernur DKI Jakarta, dan masih “gila”, jangan harap ia akan mau berkompromi dengan segala macam modus penyalahgunaan anggaran dari APBD DKI Jakarta.
Sebaliknya, mereka yang gila jabatan dan harta, sudah pasti tidak bisa menerima begitu saja “kegilaan” Ahok itu merampas “rezeki” mereka selama ini. Berbagai upaya dengan segala cara Ahok pasti akan terus diganggu, diserang, untuk bagaimana bisa menyingkirkannya dari Balaikota DKI Jakarta.
Yang namanya korupsi tidak mungkin hanya melibatkan satu pihak. Dalam hal ini korupsi anggaran melibatkan pihak anggota DPRD DKI, pihak pejabat pengguna anggaran di Pemprov DKI, dan pihak swasta yg perusahaan abal-abalnya digunakan untuk mewujudkan praktek korupsi anggaran itu. Modusnya menciptakan proyek yang sebetulnya tidak dibutuhkan dan meng-mark-up-kan harganya atau nilai proyeknya secara gila-gilaan, dan dari proyek yang memang ada/sah, tetapi dalam pelaksanaannya pembelian barang dan bahan-bahannya jauh di bawah standar spesifikasi yang sudah ditetapkan sehingga harganya pasti jauh lebih murah, tetapi penggunaan anggarannya tetap dilaporkan sesuai dengan anggaran aslinya. Selisihnya itu yang pasti sangat banyak itulah yang dikorupsi.
Ahok sudah beberapa kali menyatakan seperti itu. Investigasi majalah Tempo juga membuktikan hal tersebut memang sangat nyata. Tugas polisi/KPK -lah yang akan menyelidiki siapa saja mereka itu. ***

Sumber informasi: Kompas.com dan Indopos.com
Penulis: Daniel H.t. (seorang kompasianer)

Jumat, 03 April 2015

Tujuh Perkataan Yesus dikayu Salib




Tujuh Perkataan Salib adalah tujuh ucapan yang diucapkan oleh Yesus ketika Yesus disalib, sebagaimana tertulis dalam keempat Injil.[1][2]
Ketujuh perkataan tersebut adalah:[3]
  1. Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan. ”Luk 23:34
  2.  “Sesungguhnya, hari ini juga kamu akan bersama Aku di dalam Firdaus.Luk 23:43
  3.  “Ibu, inilah anakmu!Yoh 19:26-27
  4. Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?Mat 27:46 & Mark 15:34 
  5.  “Aku haus!Yoh 19:28
  6.  “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.Luk 23:46
  7.  “Sudah selesai.”Yoh 19:30
Biasanya, ketujuh perkataan ini dikategorikan sebagai: kalimat 1, 4, & 7 (pertama, tengah dan terakhir). Yesus berbicara kepada Bapa, kalimat 2. Yesus berbicara kepada penjahat, kalimat 3. Yesus berbicara kepada Maria, dan perkataan 5 dan 6 yang tidak secara spesifik ditujukan pada siapa pun[4]
Tidak ada Injil yang mencatat keseluruhan perkataan tersebut. Urutan di atas berasal dari harmonisasi keempat Injil. Di dalam Injil Matius dan Markus, Yesus mengucapkan perkataan dalam bahasa Aram (alih-alih Ibrani). Dalam Injil Lukas, dapat ditemukan dua ucapan pertama dan keenam Yesus, sementara ucapan ketiga, kelima, dan ketujuh hanya ditemukan dalam Injil Yohanes.
Alkitab menuliskan bahwa Yesus dipaku di atas kayu salib sekitar enam jam, dan bahkan lebih dari itu, dan ketujuh perkataan inilah yang dicatat oleh murid-murid Yesus. Masing-masing dari ucapan tersebut memiliki makna istimewa.[5] Sejak abad ke-16 ketujuh perkataan ini telah banyak dipakai untuk khotbah Jumat Agung, dan banyak buku yang telah ditulis untuk menganalisa ketujuh perkataan tersebut.[6][7][8]

Ketujuh Perkataan Salib merupakan contoh pendekatan tekstual dalam merekonstruksi harmoni Injil, yang berusaha menggabungkan materi-materi yang berbeda dari keempat Injil, untuk menghasilkan kesimpulan yang lebih dari masing-masing Injil tersebut.[9]

1. Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan

Kemudian Yesus berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan.” Lalu para tentara melempar undi untuk membagi pakaian-Nya di antara mereka. Luke 23:34
Ucapan ini biasa diartikan sebagai doa Yesus memohonkan pengampunan bagi mereka yang menyalibkan Dia: para prajurit Romawi, dan semua yang terlibat dalam peristiwa penyaliban tersebut.[10][11][12][13]
Pdt. Stephen Tong menuliskan, "Inilah cinta di atas segala cinta, keajaiban di atas segala keajaiban. Inilah keagungan dan kehormatan, kesucian dan kemurnian di atas segala kebajikan yang pernah dinyatakan di dalam dunia ini."[8]

2. Sesungguhnya, hari ini juga kamu akan bersama Aku di dalam Firdaus

Lalu ia berkata kepada Yesus, “Ya Yesus, ingatlah aku ketika Engkau masuk ke dalam kerajaan-Mu.” Kemudian Yesus berkata kepadanya, “[Amin], hari ini juga kamu akan bersama Aku di dalam Firdaus.” Luke 23:42-43
Menurut Injil Matius dan Lukas, Yesus disalib di antara dua penjahat lain yang juga disalib. Matius (27:38,44) mencatat bahwa penjahat-penjahat tersebut juga mengejek Yesus bersama-sama dengan orang-orang yang menonton peristiwa penyaliban tersebut. Namun Lukas mencatat bahwa salah satu dari mereka kemudian berkata kepada yang lain bahwa Yesus tidak bersalah apa pun. Yesus menjawab "Sesungguhnya, Aku berkata kepadamu (ἀμήν λέγω σοί, amēn legō soi), yang diikuti dengan kemunculan satu-satunya kata "Firdaus" di dalam Injil (παραδείσω, paradeisō, dari Persia pairidaeza "taman firdaus"). Bahkan, ketika Yesus di atas kayu salib pun, Ia masih mempedulikan orang-orang yang terhilang.[5]
Pdt. Tong menuliskan bahwa perubahan dalam diri salah seorang penjahat tersebut karena mendengar ucapan Yesus yang pertama, yang mengampuni orang-orang yang menyalibkan Yesus. "Sang perampok sudah menjalani suatu pengadilan yang adil yang datang dari Allah sendiri. ... Dia mengakui keadilan Allah dan tidak mengakui keadilan Pilatus. ... Dia tahu bahwa dirinya ... tidak memiliki pengharapan lagi, dan ... dia mendengar suara Yesus yang mengatakan, 'Ya Bapa, ampunilah mereka...', bukankah ini satu hal yang menyadarkannya?"
Perbedaan penafsiran tanda baca telah menjadi sumber perbedaan doktrin di antara kaum Kristen, karena di naskah aslinya tidak terdapat tanda baca. Kaum Protestan biasanya menggunakan versi "hari ini juga kamu akan bersama Aku di dalam Firdaus." Ini mengasumsikan bahwa pada hari itu juga penjahat itu akan pergi ke Surga, tanpa melalui purgatori (api penyucian).[14] Di pihak lain, kaum Katolik biasanya menggunakan versi "Aku berkata kepadamu hari ini, kamu akan..." yang hanya menunjukkan bahwa pernyataan tersebut dibuat pada hari itu, tetapi belum tentu penjahat tersebut akan berada di Surga pada hari itu juga.[15]

3. Ibu, inilah anakmu! 

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya berdiri di sana, Ia berkata kepada ibu-Nya, “[Wanita], inilah anakmu!” Lalu, Yesus berkata kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Kemudian, murid itu menerima ibu Yesus tinggal di rumahnya. John 19:26-27
Di sini, Yesus menyerahkan Maria, ibu Yesus, untuk dirawat oleh murid yang dikasihi Yesus (penafsir biasa menafsirkan murid tersebut adalah Rasul Yohanes, yang menuliskan Injil Yohanes).[1] Sejauh yang dicatat di dalam Alkitab, hanya murid itulah yang berada di lokasi penyaliban Yesus (namun di sana selain Maria ada beberapa perempuan-perempuan yang mengikuti sepanjang jalan salib). Perkataan tersebut menunjukkan sisi kemanusiaan Yesus dan kasih sayang kepada sang ibu.[5]

4. Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Mulai pukul dua belas siang sampai pukul tiga sore, kegelapan menutupi seluruh daerah itu. Kira-kira pukul tiga sore, Yesus berseru dengan suara keras, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Matthew 27:45-46
Pada pukul dua belas siang sampai pukul tiga sore, kegelapan menutupi seluruh daerah itu. Sekitar pukul tiga sore, Yesus berseru dengan suara yang keras, “Eloi, Eloi, lama sabakhtani,” yang artinya “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Mark 15:33-34
Perkataan keempat ini adalah satu-satunya yang dicatat di dua Injil, dan satu-satunya yang dicatat di dalam kisah penyaliban Yesus di Injil Matius dan Markus. Ini merupakan kutipan dari Mazmur 22:1 dari Raja Daud. Beberapa penafsir mempercayai bahwa bukan Kristus yang mengutip Daud, tetapi Daud yang digerakkan Roh Kudus untuk menuliskan nubuatan mengenai penderitaan dan sengsara yang akan dialami oleh Yesus tersebut
Kegelapan yang terjadi pada tengah hari tersebut bukanlah kegelapan biasa, bukan karena awan tebal, dan juga bukan karena gerhana matahari, karena gerhana tidak pernah berlangsung selama 3 jam, dan Paskah Yahudi dirayakan pada bulan purnama (gerhana tidak pernah terjadi pada waktu purnama). Selama sekitar tiga jam Yesus tidak mengucapkan kalimat yang lain; pada saat-saat kegelapan supranatural itulah Yesus mengucapkan kalimat keempatnya. Ini adalah kalimat yang paling sulit mengerti di antara yang lain. Martin Luther pernah memikirkan ayat ini selama berjam-jam dan akhirnya ia berdiri sambil memukul dadanya dan berkata, "Siapakah yang dapat mengerti bahwa Allah meninggalkan Allah?".[8]
Pdt. Stephen Tong dalam 7 Perkataan Salib: "Pada saat kelahiran-Nya, ada terang yang besar (bintang Betlehem) di tengah kegelapan (pada malam hari), tapi pada saat mati-Nya, ada kegelapan yang besar di tengah matahari yang bersinar terang (pada tengah hari) ... Kelahiran Kristus ajaib, kematian Kristus ajaib. Siapakah Yesus? Waktu lahir-Nya, Kristus membawa terang kepada dunia yang gelap, tetapi waktu mati-Nya, Kristus kegelapan dosa dunia menimpa sang terang dunia, tapi Yesus Kristus rela menerimanya." Ia mengakui bahwa manusia tidak akan mengerti seratus persen kalimat keempat ini, kecuali orang itu mempunyai pengalaman berada di neraka, tetapi ia melanjutkan bahwa orang yang masuk neraka tidak akan mengerti kalimat ini, karena orang yang masuk neraka adalah orang berdosa, sedangkan Yesus tidak berdosa.[8]

5. Aku haus!

Yesus tahu bahwa semuanya sudah selesai. Untuk menggenapi apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, Ia berkata, “Aku haus!”John 19:28
Yesus mengalami dehidrasi karena kehilangan banyak darah dan cairan tubuh. Ia belum makan atau minum sejak Perjamuan Terakhir pada malam sebelumnya, dan dalam kondisi yang sangat haus. Penulis Injil menuliskan bahwa ada orang yang menawari Yesus anggur asam. Yesus menolak minuman anggur bercampur empedu dan mur (Matius 27:34 dan Markus 15:23) yang ditawarkan untuk meringankan penderitaan-Nya. Tapi di sini, beberapa jam kemudian, kita melihat Yesus memenuhi nubuatan Mesianik dalam Mazmur 69:21. (cf. Mazmur 22:15).[16]

6. Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku

Lalu Yesus berseru dengan suara keras, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan [Roh]-Ku.” Sesudah mengatakan itu, Yesus menghembuskan napas-Nya yang terakhir. Luke 23:46
Pdt. Stephen Tong dalam bukunya menerangkan, "Istilah bahasa Yunani untuk kata "serahkan" adalah istilah yang dipakai khusus pada waktu seseorang menyerahkan uangnya kepada pemegang uang yang paling bisa diperacaya. Yesus Kristus tahu bahwa jiwa-Nya ada di dalam tangan Allah yang baik. Dia menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa. Ini menjadi satu pengharapan bagi setiap orang. Yohanes Calvin berkata bahwa pada waktu Kristus menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa, sebenarnya pada waktu itu juga Kristus mengumpulkan roh kita masing-masing yang percaya kepada-Nya beserta dengan Dia untuk diserahkan kepada Bapa."

7. Sudah selesai

Setelah mencecap anggur asam itu, Yesus berkata, “Sudah [genap].” Kemudian, Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. John 19:30

Pastor Hamilton dalam 24 Hours menuliskan, "Perkataan terakhir ini adalah sebuah seruan kemenangan, bukan seruan keputusasaan. Yesus telah menyelesaikan tugas di dunia ini. Rencana Allah sudah digenapi; penyelamatan manusia telah dilakukan; kasih Allah telah dinyatakan. Ia telah menggantikan kita. Ia telah menunjukkan kerusakan manusia dan juga kasih Allah. Ia menyerahkan diri sendiri kepada Allah sebagai kurban penebus umat manusia. Setelah mengatakan kalimat terakhir ini, maka usai sudah. Dengan kata-kata ini, tokoh teragung yang pernah berjalan di muka bumi ini, Allah dalam rupa manusia, menghembuskan nafas terakhirnya."[5]:p.112

http://nenobaistimor.blogspot.com/2015/03/pertanyaan-siapa-para-penulis-kitab.html 

Kamis, 02 April 2015

Apa hubungan telur dengan PASKAH?

Telur Paskah berasal dari tradisi kesuburan kaum Indo-Eropa dimana telur merupakan simbol musim semi. Di masa silam, di Persia, orang biasa saling menghadiahkan telur pada saat perayaan musim semi, yang bagi mereka juga menandakan dimulainya tahun yang baru.[butuh rujukan]
Pada abad-abad pertama kekristenan, tradisi ini sulit dihapus karena hari Paskah memang kebetulan jatuh pada setiap awal musim semi. Perayaan musim semi selalu dirayakan dengan meriah mengiringi kegembiraan meninggalkan musim dingin. Tumbuh-tumbuhan dan bunga mulai tumbuh dan bermekaran, dan suasana keceriaan seperti ini menjadi saat yang tepat untuk membagi-bagikan hadiah.
Membagi-bagikan telur pada hari Paskah akhirnya diterima oleh gereja selain untuk merayakan datangnya musim semi, juga karena telur memberikan gambaran/simbol akan adanya kehidupan. Dalam Kristen, telur mendapatkan makna religius, yaitu sebagai simbol makam batu dimana Yesus keluar menyongsong hidup baru melalui kebangkitan-Nya. Selain itu ada alasan yang sangat praktis menjadikan telur sebagai tanda istimewa Paskah, yaitu karena dulu telur merupakan salah satu makanan pantang selama Masa Prapaskah. Umat Kristen sejak awal telah mewarnai telur-telur Paskah dengan warna-warna cerah, meminta berkat atasnya, menyantapnya, serta memberikannya kepada teman dan sahabat sebagai hadiah Paskah.
Tradisi telur Paskah berkembang di antara bangsa-bangsa Eropa Utara dan di Asia. Tetapi, di Eropa Selatan dan juga di Amerika Selatan, tradisi telur Paskah tidak pernah menjadi populer.

Tradisi

Pada abad pertengahan, menurut tradisi telur-telur dibagikan pada Hari Raya Paskah kepada semua pelayan. Terdapat catatan bahwa Raja Edward I dari Inggris (1307) memerintahkan agar 450 butir telur direbus menjelang Paskah, diberi warna atau dibungkus dengan daun keemasan, yang kemudian akan dibagi-bagikannya kepada seluruh anggota keluarga kerajaan pada Hari Raya Paskah.
Telur Paskah biasanya dibagikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah bersama dengan hadiah-hadiah lain. Kebiasaan ini berakar kuat di Jerman di mana telur-telur disebut Dingeier (telur-telur yang dihutang). Sehingga berkembanglah berbagai macam pantun di PerancisJermanAustria dan Inggris, di mana anak-anak, bahkan hingga sekarang, menuntut telur-telur Paskah sebagai hadiah mereka.
Di beberapa daerah di Irlandia, anak-anak mengumpulkan telur-telur angsa dan bebek sepanjang Pekan Suci, untuk diberikan sebagai hadiah pada Minggu Paskah. Sebelumnya, pada Minggu Palma, mereka membuat sarang-sarang kecil dari batu, dan sepanjang Pekan Suci mereka mengumpulkan sebanyak mungkin telur, menyimpannya dalam sarang-sarang batu mereka yang tersembunyi. Pada Minggu Paskah, mereka memakan semuanya, membaginya dengan anak-anak lain yang masih terlalu kecil untuk mengumpulkan telur-telur mereka sendiri.
Orang-orang dewasa juga memberikan telur-telur sebagai hadiah di Irlandia. Jumlah telur yang akan dihadiahkan ditentukan menurut peribahasa kuno di kalangan rakyat Irlandia: Satu telur untuk pria sejati; dua telur untuk pria terhormat; tiga telur untuk yang miskin; empat telur untuk yang termiskin/pengemis.

Hiasan

Di kebanyakan negara, telur-telur diberi warna polos dengan pewarna dari tumbuh-tumbuhan. Di kalangan orang KasdimSuriahdan Yunani, umat saling menghadiahkan telur-telur berwarna merah demi menghormati darah Kristus. Di daerah-daerah di Jerman dan Austria, hanya telur-telur berwarna hijau saja yang dipergunakan pada Hari Kamis Putih, tetapi telur-telur yang berwarna-warni dipergunakan selama perayaan Paskah. Orang-orang Slavia membuat pola-pola istimewa dengan emas dan perak.
Di Jerman dan di beberapa negara Eropa tengah, telur-telur yang dipergunakan untuk memasak hidangan Paskah tidak dipecahkan, melainkan ditusuk dengan jarum di kedua ujungnya, lalu isinya dikeluarkan dengan meniupnya ke dalam mangkok. Kulit-kulit telur kosong diberikan kepada anak-anak untuk dipergunakan dalam berbagai macam permainan Paskah. Di beberapa daerah di Jerman, kulit-kulit telur kosong tersebut digantungkan pada semak-semak dan pohon sepanjang Pekan Paskah, mirip pohon Natal. Orang-orang Armenia menghiasi kulit telur kosong mereka dengan gambar-gambar Kristus yang BangkitBunda Maria, dan gambar-gambar religius lainnya, untuk diberikan kepada anak-anak sebagai hadiah Paskah.
Masa Paskah merupakan masa bermain-main dengan telur di seluruh daratan Eropa. Lomba telur tumbuk dengan berbagai macam variasinya banyak dilakukan di SuriahIrak, dan juga Iran. Di Norwegia, permainan itu disebut knekke (ketuk). Di Jerman, Austria dan Perancis, telur yang direbus keras digelindingkan di lapangan atau bukit dan saling diadu. telur yang tetap tak retak hingga akhir dinyatakan sebagai telur kemenangan. Permainan ini amat digemari di Amerika Serikat lewat pesta telur gelinding di lapanganGedung Putih di Washington.
Tradisi umum lainnya di antara anak-anak adalah perlombaan mencari telur, baik di dalam rumah maupun di kebun pada hari Minggu Paskah. Di Perancis, anak-anak mendengarkan dongeng bahwa telur-telur Paskah dijatuhkan dari lonceng-lonceng gereja dalam perjalanan mereka kembali dari Roma. Di Jerman dan Austria, keranjang-keranjang kecil berisi telur, kue-kue serta permen diletakkan di tempat-tempat tersembunyi, dan anak-anak percaya bahwa kelinci Paskah, yang juga begitu populer di negeri ini, telah meletakkan telur-telur itu beserta permennya.
Di Rusia dan Ukraina dan juga Polandia, orang memulai santapan Paskah mereka dengan penuh sukacita setelah masa puasa Prapaskah yang panjang dengan sebutir telur yang telah diberkati pada hari Minggu Paskah. Sebelum duduk makan, sang bapak akan dengan hati-hati membagikan sepotong bagian kecil dari telur Paskah kepada setiap anggota keluarga dan para tamu, sembari mengucapkan selamat berbahagia di hari yang kudus ini. Sebelum mereka memakan telur bagian mereka dalam keheningan, mereka tidak akan duduk untuk menyantap jamuan Paskah mereka.

Serba-serbi

Telur paskah yang termahal di dunia adalah hasil kreasi dari seorang seniman asal Perancis Peter Carl Fabergé (1846 - 1920) harga per telurnya tidak ada yang di bawah sepuluh juta dollar AS. Pada perayaan Paskah 1884, Faberge membuatkan telur hias dari emas dengan dibubuhi intan dan berlian untuk Tsar Alexander III. Telur hias itu dibuat sebagai hadiah bagi permaisuri Tsar. Faberge membuat telur hias kurang lebih sebanyak 54 butir. Sekarang, delapan butir di antaranya raib. Sisanya dikoleksi oleh orang-orang terkaya di dunia, termasuk Ratu Inggris dan anggota Kerajaan Monako

http://nenobaistimor.blogspot.com/2015/04/tujuh-perkataan-yesus-dikayu-salib.html